Minggu, 17 April 2011

KURIKULUM 2004 (KBK) DAN KURIKULUM 2006 (KTSP)

Kurikulum Sains disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sains secara nasional. Saat ini kesejahteraan bangsa bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial dan kepercayaan (kredibilitas). Dengan demikian, tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan sains menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Industri baru dikembangkan dengan berbasis kompetensi sains dan teknologi tingkat tinggi, maka bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berpendidikan dengan standar mutu yang tinggi. Pengembangan kurikulum Sains merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta tuntutan desentralisasi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan relevansi program pembelajaran dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Kompetensi sains menjamin pertumbuhan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penguasaan kecakapan hidup, penguasaan prinsip-prinsip alam, kemampuan bekerja ilmiah dan bersikap ilmiah sekaligus pengembangan kepribadian Indonesia yang kuat dan berakhlak mulia

LABORATORIUM KIMIA FISIK

I. Latar Belakang
Laboratorium Kimia Fisik merupakan salahsatu dari 7 laboratorium yang berada dijurusan kimia. Laboratorium ini didirikan sejalan dengan mulai diterimanya mahasiswa S-1 prodi kimia. Secara substansi peranan laboratorium kimia fisik adalah memberikan landasan teoritis dan konsep untuk bidang lain di jurusan kimia. Komposisi staff kimia fisik dengan latar belakang ilmu murni dan ilmu terapan memberikan kekuatan dalam pelaksanaan pembelajaran yang lebih komprehensif karena dapat memberikan landasan konsep disertai dengan aplikasinya.

Minggu, 19 Desember 2010

KLASIFIKASI UNSUR- UNSUR DALAM TABEL PERIODIK UNSUR

Beberapa unsur telah sejak lama menjadi bagian kehidupan manusia. Dalam ilmu kimia kita mempelajari lebih dari 100 unsur di alam. Setiap unsur memiliki sifat-sifat yang khas, disamping itu terdapat pula unsur-unsur yang memiliki kemiripan-kemiripan. Oleh karena jumlah unsur cukup banyak, maka perlu diklasifikasikan kedalam golongan-golongan berdasarkan persamaan sifat-sifatnya. Sifat-sifat unsur yang beragam misalnya wujud unsur dalam suhu kamar ada yang padat, cair dan gas. Pengelompokkan unsur-unsur ini sangat membantu kita dalam memahami kemiripan dan perbedaan diantara unsur-unsur, sehingga memudahkan kita untuk mempelajari mekanisme dan sifat-sifat yang ditunjukkan ketika suatu unsur bergabung dengan unsur lain.

Jumat, 17 Desember 2010

PERKEMBANGAN TASAWUF PADA MASA DAULAH UMAYAH

PERKEMBANGAN TASAWUF PADA MASA DAULAH UMAYAH

I. PENDAHULUAN
Dalam sejarah Islam terdapat khazanah spiritualisme yang sangat berharga yakni sufisme. Ia berkembang mengikuti dialektika zaman sejarah nabi Muhammad SAW. Sampai sekarang baik dalam bentuk yang sederhana dan ortodoks maupun yang elaborat heterodoks. Perkembangan sufisme mencerminkan ragamnya pemahaman terhadap konsep akhlaq dalam kehidupan sosial dan ihsan dalam kehidupan spiritual.
Jika dilihat dalam konteks sejarah, ragam pemahaman itu muncul dalam beberapa fase perkembangan. Pada awal Islam terutama periode Makkah begitu jelas Alqur’an menekankan pentingnya spiritualisme itu. Tetapi hal ini paralel dengan orientasi kesadaran profetik, dimana pengalaman spiritual tidak hanya ditunjukkan bagi spiritualisme itu sendiri, tetapi bermakna bagi pembangunan etika yang menggerakkan sejarah kehidupan umat Islam. Dalam tahap selanjutnya spiritualitas itu muncul dalam bentuk kehidupan zuhud ketika umat Islam menikmati kemewahan dengan terciptanya imperium yang luas.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Asal Usul Tasawuf
B. Tasawuf Pada Masa Daulah Umayah
C. Aliran- aliran Tasawuf pada Abad I dan II H

III. PEMBAHASAN
A. Asal Usul Tasawuf
Banyak kalangan yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari luar yang masuk kedalam Islam. Sebagian penulis berpendapat bahwa tasawuf berasal dari rahib-rahib Kristen yang menjauhi dunia dan kesenangan material. Ada pula yang mengatakan bahwa tasawuf timbul atas pengaruh ajaran Hindhu dan disebutkan pula bahwa ajaran tasawuf berasal dari filsafat Phytagoras dengan ajaran-ajarannya yang meninggalkan kehidupan material dan memasuki kehidupan kontemplasi. Dikatakan pula bahwa tasawuf masuk kedalam Islam karena pengaruh filsafat Plotinus. Namun demikian terlepas atau tidak dari pendapat-pendapat tersebut bahwa dalam sumber ajaran Islam yaitu Alqur’an terdapat ajaran yang membawa kepada timbulnya tasawuf. Faham bahwa Tuhan dekat dengan manusia yang merupakan ajaran dalam mistisme terdapat dalam Alqur’an surat Al-baqarah ayat 186
                   

Artinya:
”Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan seruan orang yang memanggil jika ia memanggil-Ku”

B. Tasawuf Pada Masa Daulah Umayah
Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya. Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa – masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah – khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat kezaliman – kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentangnya.Puncak kekejaman mereka terlihat jelas pada peristiwa terbunuhnya Husein bin Alibin Abi Thalib di Karbala. Kasus pembunuhan itu ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam masyarakat Islam ketika itu. Kekejaman Bani Umayyah yang tak henti – hentinya itu membuat sekelompok penduduk Kufah merasa menyesal karena mereka telah mengkhianati Husein dan memberikan dukungan kepada pihak yang melawan Husein. Mereka menyebut kelompoknya itu dengan Tawwabun (kaum Tawabin). Untuk membersihkan diri dari apa yang telah dilakukan, mereka mengisi kehidupan sepenuhnya dengan beribadah.
Disamping gejolak politik yang berkepanjangan, perubahan kondisi sosialpun terjadi. Hal ini mempunyai pengaruh yang besar dalam pertumbuhan kehidupan beragama masyarakat Islam. Pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat,secara umum kaum muslimin hidup dalam keadaan sederhana. Ketika Bani Umayyah memegang tampuk kekuasaan,hidup mewah mulai meracuni masyarakat, terutama terjadi di kalangan istana.Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai khalifah tampak semakin jauh dari tradisi kehidupan Nabi SAW serta sahabat utama dan semakin dekat dengan tradisi kehidupan raja – raja Romawi. Kemudian anaknya,Yazid (memerintah 61 H/680 M – 64 H/683M), dikenal sebagai seorang pemabuk.. Dalam situasi demikian kaum muslimin yang saleh merasa berkewajiban menyerukan kepada masyarakat untuk hidup zuhud, sederhana, saleh,dan tidak tenggelam dalam buaian hawa nafsu. Diantara para penyeru tersebut ialah Abu Dzar al-Ghiffari. Dia melancarkan kritik tajam kepada Bani Umayyah yang sedang tenggelam dalam kemewahan dan menyerukan agar diterapkan keadilan sosial dalam Islam.
Dari perubahan –perubahan kondisi sosial tersebut sebagian masyarakat mulai melihat kembali pada kesederhanaan kehidupan Nabi SAW para sahabatnya. Mereka mulai merenggangkan diri dari kehidupan mewah.Sejak saat itu kehidupan zuhud menyebar luas dikalangan masyarakat. Para pelaku zuhud itu disebut zahid (jamak : zuhhad) atau karena ketekunan mereka beribadah, maka disebut abid (jamak : abidin atau ubbad) atau nasik (jamak : nussak)
Pada abad kesatu dan kedua hijriyah disebut dengan fase zuhud (asketisme), sikap zuhud para sufi salafi merupakan awal kemunculan tasawuf, pada fase zuhud ini terdapat para sufi salafi yang lebih cenderung beribadah kepada Allah untuk mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan masa lalu. Mereka mengamalkan konsep zuhud dalam kehidupan yaitu tidak terlalu mementingkan makanan enak, pakaian mewah, harta benda melimpah, rumah megah, tahta, pangkat, jabatan dan wanita cantik, tetapi mereka lebih mementingkan beramal ibadah untuk kepentingan akhirat dengan rajin mendekatkankan diri kepada Allah, diantara 'ulama sufi salafi yang terkenal di masa itu adalah Hasan Al-Bashri (wafat pada 110 H) dan Rabi'atul Adawiyah (wafat 185 ), kedua sufi ini dijuluki sebagai zahid (orang yang sangat sederhana)

C. Aliran- aliran Tasawuf pada Abad I dan II H
Zuhud yang tersebar luas pada abad –abad pertama dan kedua Hijriyah terdiri atas berbagai aliran yaitu :
1. Aliran Madinah
Sejak masa yang dini,di Madinah telah muncul para zahid.Mereka kuat berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-sunnah, dan mereka menetapkan Rasulullah sebagai panutan kezuhudannya. Diantara mereka dari kalangan sahabat adalah Abu Ubaidah al-jarrah (w.18 H.), Abu Dzar al-Ghiffari (w. 22H.), Salman al-Farisi (w. 32 H.), Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H.), Hudzaifah ibn Yaman (w. 36 H.). Sementara itu dari kalangan tabi’in diantaranya adalah Sa’id ibn al-Musayyad (w. 91 H.) dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H.).
Aliran Madinah ini lebih cenderung pada pemikiran angkatan pertama kaum muslimin (salaf),dan berpegang teguh pada zuhud serta kerendah hatian Nabi. Selain itu aliran ini tidak begitu terpengaruh perubahan – perubahan sosial yang berlangsung pada masa dinasti Umayyah, dan prinsip – prinsipnya tidak berubah walaupun mendapat tekanan dari Bani Umayyah.dengan begitu, zuhud aliran ini tetap bercorak murni Islam dan konsisten pada ajaran –ajaran Islam.
2. Aliran Bashrah
Louis Massignon mengemukakan dalam artikelnya, Tashawwuf, dalam Ensiklopedie de Islam ,bahwa pada abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat dua aliran zuhud yang menonjol. Salah satunya di Bashrah dan yang lainnya di Kufah. Menurut Massignon orang – orang Arab yang tinggal di Bashrah berasal dari Banu tamim. Mereka terkenal dengan sikapnya yang kritis dan tidak percaya kecuali pada hal – hal yang riil. Merekapun terkenal menyukai hal- hal logis dalam nahwu, hal – hal nyata dalam puisi dan kritis dalam hal hadits. Mereka adalah penganut aliran ahlus sunnah, tapi cenderung padaaliran – aliran mu’tazilah dan qadariyah. Tokoh mereka dalam zuhud adalah Hasan al-Bashri, Malik ibn Dinar, Fadhl al-Raqqasyi,Rabbah ibn ‘Amru al-qisyi, Shalih al-Murni atau Abdul Wahid ibn Zaid,seorang pendiri kelompok asketis di Abadan
Corak yang menonjol dari para zahid Bashrah ialah zuhud dan rasa takut yang berlebih –lebihan.Dalam halini Ibn Taimiyah berkata : “Para sufi pertama –tama muncul dari Bashrah.Yang pertama mendirikan khanaqah para sufi ialah sebagian teman Abdul Wahid ibn Zaid, salah seorang teman Hasan al-Bashri.para sufi di Bashrah terkenal berlebih –lebihan dalam hal zuhud, ibadah, rasa takut mereka dan lain –lainnya, lebih dari apa yang terjadi di kota – kota lain”. Menurut Ibn Taimiyyah hal ini terjadi karena adanya kompetisi antara mereka dengan para zahid Kufah.
3. Aliran Kufah
Aliran Kufah menurut Louis Massignon, berasal dariYaman.Aliran ini bercorak idealistis, menyukai hal- hal aneh dalam nahwu, hal-hal image dalam puisi,dan harfiah dalam hal hadits.Dalam aqidah mereka cenderung pada aliran Syi’ah dan Rajaiyyah.dan ini tidak aneh, sebab aliran Syi’ah pertama kali muncul di Kufah.
Para tokoh zahid Kufah pada abad pertama Hijriyah ialah ar-Rabi’ ibn Khatsim (w. 67 H.) pada masa pemerintahan Mu’awiyah, Sa’id ibn Jubair (w. 95 H.), Thawus ibn Kisan (w. 106 H.), Sufyan al-Tsauri (w. 161 H.)
4. Aliran Mesir
Pada abad – abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat suatu aliran zuhud lain, yang dilupakan para orientalis, dan aliran ini tampaknya bercorak salafi seperti halnya aliran Madinah. Aliran tersebut adalah aliran Mesir. Sebagaimana diketahui, sejak penaklukan Islam terhadap Mesir, sejumlah sahabat telah memasuki kawasan itu,misalnya Amru ibn al-Ash, Abdullah ibn Amru ibn al-Ash yang terkenal kezuhudannya, al-Zubair bin Awwam dan Miqdad ibn al-Aswad.
Tokoh – tokoh zahid Mesir pada abad pertama Hijriyah diantaranya adalah Salim ibn ’Atar al-Tajibi. Al-Kindi dalam karyanya, al-wulan wa al-Qydhah meriwayatkan Salim ibn ‘Atar al-Tajibi sebagai orang yang terkenal tekun beribadah dan membaca al-Qur’an serta shalat malam, sebagaimana pribadi – pribadi yang disebut dalam firman Allah :”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam”. (QS.al-Dzariyyat, 51:17). Dia pernah menjabat sebagai hakim diMesir,dan meninggal di Dimyath tahun 75 H. Tokoh lainnya adalah Abdurrahman ibn Hujairah (w. 83 H.) menjabat sebagai hakim agung Mesir tahun 69 H.
Sementara tokoh zahid yang paling menonjol pada abad II Hijriyyah adalah al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H.).Kezuhudan dan kehidupannya yang sederhana sangat terkenal. Menurut ibn Khallikan, dia seorang zahid yang hartawan dan dermawan, dll
Dari uraian tentang zuhud dengan berbagai alirannya, baik dari aliran Madinah, Bashrah, Kufah, Mesir ataupun Khurasan, baik pada abad I dan II Hijriyyah dapat disimpulkan bahwa zuhud pada masa itu mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Pertama : Zuhud ini berdasarkan ide menjauhi hal – hal duniawi, demi meraih pahala akhirat dan memelihara diri dari adzab neraka. Ide ini berakar dari ajaran –ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah yang terkena dampak berbagai kondisi sosial politik yang berkembang dalam masyarakat Islam ketika itu.
Kedua : Bercorak praktis, dan para pendirinya tidak menaruh perhatian buat menyusun prinsip – prinsip teoritis zuhud. Zuhud ini mengarah pada tujuan moral.
Ketiga : Motivasi zuhud ini ialah rasa takut, yaitu rasa takut yang muncul dari landasan amal keagamaan secara sungguh –sungguh. Sementara pada akhir abad kedua Hijriyyah, ditangan Rabi’ah al-Adawiyyah, muncul motivasi cinta kepada Allah, yang bebas dari rasa takut terhadap adzab-Nya.
Keempat : Menjelang akhir abad II Hijriyyah, sebagian zahid khususnya di Khurasan dan pada Rabi’ah al-Adawiyyah ditandai kedalaman membuat analisa, yang bisa dipandang sebagai fase pendahuluan tasawuf atau sebagai cikal bakal para sufi abad ketiga dan keempat Hijriyyah. Al-Taftazani lebih sependapat kalau mereka dinamakan zahid, qari’ dan nasik (bukan sufi). Sedangkan Nicholson memandang bahwa zuhud ini adalah tasawuf yang paling dini. Terkadang Nicholson memberi atribut pada para zahid ini dengan gelar “para sufi angkatan pertama”.
Suatu kenyataan sejarah bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan zuhud dalam Islam. Istilah tasawuf baru muncul pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H.) dengan meletakkan al-sufy di belakang namanya. Pada masa ini para sufi telah ramai membicarakan konsep tasawuf yang sebelumnya tidak dikenal.Jika pada akhir abad II ajaran sufi berupa kezuhudan, maka pada abad ketiga ini orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi mahbub), bersatu dalam kecintaan (ittihad fi mahbub), bertemu dengan Tuhan (liqa’) dan menjadi satu dengan Tuhan (‘ain al jama’)21[21]. Sejak itulah muncul karya –karya tentang tasawuf oleh para sufi pada masa itu seperti al-muhasibi (w. 243 H.), al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H.), dan al-Junaidi (w. 297 H.). Oleh karena itu abad II Hijriyyah dapat dikatakan sebagai abad mula tersusunnya ilmu tasawuf.

IV. KESIMPULAN
Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Setelah periode sahabat berlalu, muncul pula periode tabiin (sekitar abad ke I dan ke II H). Pada masa itu kondisi sosial-politik sudah mulai berubah darimasa sebelumnya. Konflik –konflik sosial politik yang bermula dari masa Usman bin Affan berkepanjangan sampai masa – masa sesudahnya.Konflik politik tersebut ternyata mempunyai dampak terhadap kehidupan beragama, yakni munculnya kelompok kelompok Bani Umayyah,Syiah, Khawarij, dan Murjiah. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, kehidupan politik berubah total. Dengan sistem pemerintahan monarki, khalifah – khalifah BaniUmayyah secara bebas berbuat kezaliman – kezaliman, terutama terhadap kelompok Syiah, yakni kelompok lawan politiknya yang paling gencar menentangnya.
Zuhud yang tersebar luas pada abad –abad pertama dan kedua Hijriyah terdiri atas berbagai aliran yaitu :
1. Aliran Madinah
2. Aliran Bashrah
3. Aliran Kufah
4. Aliran Mesir


DAFTAR PUSTAKA

Al- Taftazani, Abu Al- wafa, al Ghanimi, 1979, Madkhal ila Al
Tasawwuf al- islamy terjemah, Qahran: Dar al- Tsaqafah
Nata, Abuddin, 2001, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf, Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada
-----------------, 2009, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT. Raja Grafindo
Grafika
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, 1993, Ensiklopedi Islam, Jakarta:
PT. Ichtiar Baru Van Hoeve

BIOGRAFI EMPAT IMAM MADHAB

1. Imam Hanafi
Nama lengkapnya adalah An- Nu’man bin Zauthi At- Taimi Al Kufi, kepala suku dari bani Tamim bin Tsa’labah. Ada yang mengatakan bahwa sebab penamaannya dengan hanifah adalah karena beliau selalu membawa tinta yang disebut hanifah dalam bahasa irak. Beliau dilhirkan di kufah pada tahun 80 H tepatnya pada masa pemerintahan kholifah Abdul Malik bin Marwan. Abu Hanifah adalah seorang yang ahli fiqih dan terkenal dengan keilmuannya. Selain itu dia juga terkenal dengan kewara’annya, banyak harta, sangat memuliakan dan menghormati orang- orang disekitarnya serta sabar menuntut ilmu siang dan malam.
A. Prinsip Dasar HPLC
Prinsip kerja HPLC adalah sebagai berikut : dengan bantuan pompa fasa gerak cair dialirkan melalui kolom ke detector. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran. Karena perbedaan kekuatan interaksi antara solute-solut terhadap fasa diam.
Solut-solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka solute-solut tersebut akan keluar kolom dideteksi oleh detector kemudian direkam dalam bentuk kromatogram kromatografi gas. Seperti pada kromatografi gas, jumlah peak menyatakan konsentrasi komponen dalam campuran. Computer dapat digunakan untuk mengontrol kerja sistem HPLC dan mengumpulkan serta mengolah data hasil pengukuran HPLC.

KROMATOGRAFI GAS


I. PENDAHULUAN
Michael Twest, seorang ahli botani dari Rusia, pada tahun 1906 lah yang pertama kali memperkenalkan kromatografi. Kromatografi merupakan metode pemisahan yang didasarkan atas distribusi diferensial komponen sampel diantara dua fasa. Dimana kromatografi selalu melibatkan dua fase, yaitu fasa diam (stationary phase) dan fasa gerak (mobile phase). Fasa diam dapat berupa padatan atau cairan yang terikat pada permukaan padatan (kertas atau suatu adsorben), sedangkan fasa gerak dapat berupa cairan yang disebut eluen (pelarut), dan gas pembawa yang bersifat inert. Gerakan fasa gerak ini mengakibatkan terjadinya migrasi diferensial komponen dalam sampel.

Minggu, 03 Oktober 2010

PENDEKATAN STUDI ISLAM

I.PENDAHULUAN
Dari sejak dulu hingga sekarang, agama telah menyatakan eksistensinya, yang berarti agama telah memiliki peran dan fungsi dalam masyarakat. Kenyataan ini menimbulkan adanya minat ilmiah terhadap agama, termasuk Islam. Kemudian muncullah studi Islam, dan studi Islam ini menjadi penting karena Islam termasuk kategori agama yang juga memiliki peran dan fungsi dalam masyarakat. Dalam studi Islam diperlukan adanya pendekatan agar tujuan studi Islam itu tercapai. Secara umum studi islam bertujuan untuk menggali kembali dasar- dasar dan pokok- pokok ajaran islam sebagaimana yang ada dalam sumber dasarnya yang bersifat hakiki, universal dan dinamis serta abadi untuk dihadapkan dengan budaya dan dunia modern agar mampu memberikan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia. Dengan tujuan tersebut maka studi islam akan menggunakan cara pendekatan yang sekiranya relevan, yaitu pendekatan normative, antropologis, sosiologis, teologis, fenomenologis, historis, filosofis, politis, psikologis dan interdisipliner. Namun pada makalah ini hanya membahas tentang pendekatan secara filosofis, historis, semiotika, dan fenomenologis.

Sabtu, 31 Juli 2010

BELAJAR DARI SEPAK BOLA untuk ORGANISASI

Tim yang solid adalah sebuah cita-cita yang tidak mudah untuk diwujudkan. Betapa tidak, manusia dengan karakter, keinginan serta usia yang berbeda berkumpul dalam satu wadah guna mencapai satu juan bersama. Tak ayal lagi berbagai masalahpun bermunculan dan sering mengganggu stabilitas kelompok, sehingga tidak jarang terjadi ressufle dalam organisasi atau transfer pemain dalam sepakbola.

Kamis, 15 Juli 2010

GETTING INFORMATION AND DIRECTION

GETTING INFORMATION AND DIRECTION

X : Excuse me, can you give ne some informations?
Y : Oh, sure.
X : Actually I want to go to RM. Ayam baker ibu Suharti for having a lunch,
but I lost my way, Would you like to show me where it is?
Y : Absolutely, from this place you can go straight on for about 1 km.
Then you will find traffic lights, just turn right and follow the street for about 500 m you will find cross road and RM. Ayam ibu Suharti is on the right side of main street.
X : How can I get there?
Y : You can get there by bus.
X : How much is the cost?
X: It is about 1000 rupiah
X : Thank you so much
Y : You’re welcome and have a nice day.

The words you can use :

Cross street : Penyeberangan Bend (v) : Menikung
Cross road : Perempatan Turn/ curve : Tikungan
Three Junctions : Pertigaan Slope/ Up ward: Tanjakan
Turn left : Belok kiri Down ward : Turunan
Turn right : Belok kanan Traffic jam : Macet
Go straight on Go Up : Menanjak
Go pass Jalan terus Go down : Menurun
Follow the street Traffic light : Lampu merah
Roundabout : Bundaran Traffic regulation : Peraturan rambu lalu lintas
Square city/ public garden : Alun- alun Traffic sign : Rambu2 lalu lintas
Find : Menemukan Over fly : Jalan layang
Rich : Mencapai Ring road : Jalan bundar
Left side : Di sebelah kiri Side walk/ pavement : Trotoar
Right side : Di sebelah kanan Dead alley : Gang buntu
Main street : Jalan raya Border : Perbatasan
Path : Jalan setapak High way/freeway/ by pass : Jaln TOL

North : Utara North West : Barat laut
South : Selatan North east : Timur laut
West : Barat South West : barat daya
East : Timur South East : Tenggara


 Make conversation with your friend
 Give information how to go to some places (your home, boarding house, Bank, beach, etc)
 Try to give the information as complete as possible

SINKING SHIP

Solving Problem
SINKING SHIP

Pretend that your group are on sinking ship. There is a small rubber boat available for your rescue. The boat only can hold three people in your group and a limited number of supplies.

ALIRAN SALAF MENURUT IBNU QOYYIM AL-JAUZIYAH

I. PENDAHULUAN
Pada makalah sebelumnya telah dijelaskan tentang aliran salaf menurut Ibnu Taimiyah serta pemikiran-pemikiran beliau tentang salafiyah. Dan didalam makalah ini kami akan mencoba membahas tentang aliran salaf menurut Ibnu Qoyyim yang mana beliau adalah murid dari Ibnu Taimiyah. Baik dari Ibnu Taimiyah maupun Ibnu Qoyyim sama-sama menganut madzhab dari imam Ahmad Ibnu Hambal.

ANALISIS KUALITATIF KATION

ANALISIS KUALITATIF KATION

1. Tujuan
Untuk menganalisa adanya kation dalam suatu sampel.
2. Dasar teori
Analisa kualitatif merupakan suatu proses dalam mendeteksi keberadaan suatu unsur kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektik utuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam metode kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi golongan dan pereaksi spesifik. Kedua pereaksi ini dilakukan untuk mengetahui jenisanion atau kation suatu larutan.
Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan regensia-regensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Sedangkan metode yang digunakan dalam anion tidak sistematik kation. Namun skema yang digunakan juga bukan skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu golongan.
Di dalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu diantaranya :
1) Golongan I : kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag, Hg.
2) Golongan II : kation golongan ini bereaksi dengan asam klorida, tetapi membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Ion ini adalah Hg, Bi, Cu, Cd, As, Sb, Sn.
3) Golongan III : kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana mineral encer. Namun kation ini membentuk endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral/amoniakal. Kation golongan ini Co, Fe, Al, Cr, Co, Mn, Zn.
4) Golongan IV : kation golongan ini bereaksi dengan golongan I, II, III. Kation ini membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Ion golongan ini adalah Ba, Ca, Sr.
5) Golongan V : kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan regensia-regensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir. Kation golongan ini meliputi Mg, K, NH4+.
Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, yaitu :
a. Reaksi kering
Reaksi kering dapat digunakan pada zat padat.
b. Reaksi basah
Reaksi basah biasa digunakan untuk zat dalam larutan.
Untuk uji reaksi kering metode yang sering dilakukan adalah :
a) Reaksi nyala dengan kawat nikrom
Biasanya dilakukan dengan cara sedikit zat dilarutkan ke dalam HCL P. Diatas kaca arloji kemudian dicelupkan kedalamnya, kawat nikrom yang bermata kecil yang telah bersih kemudian dibakar diatas nyala oksidasi.
b) Reaksi nyala beilshein
Biasanya dilakukan dengan cara kawat tembaga yang telah bersih dipijarkan diatas nyala oksida sampai nyala hijau hilang. Apabila ada halogen maka nyala yang terjadi berwarna hijau.
c) Reaksi nyala untuk borat
Dilakukan dengan cara cawan porselin sedikit zat padat ditambahkan asam sulfat pekatdan beberapa tetes methanol, kemudian dinyalakan ditempat gelap. Apabila ada borat akan timbul warna hijau.
3. Alat dan Bahan
a. Alat
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Penjepit tabung
- pemanas
b. bahan
- Larutan - Larutan
- Larutan - Larutan
- Larutan - Larutan
- Larutan - Larutan
- Larutan - Larutan
- Larutan - Larutan
- Larutan - larutan
- Larutan - larutan
- Larutan Natrium Arsenit - larutan
- Larutan - larutan kalium kromat ( )
- Larutan - larutan
- Larutan - larutan
- Larutan - larutan (encer)
- Larutan - Logam Cu
- Larutan - Larutan
- Larutan chinconin Kl - larutan KCNS
- Larutan - Larutan Natrium asetat
- Larutan - larutan Alizrin sulfonat
- Larutan Amonium Hidroksida - larutan morin alkohol
- Larutan - Aquades
- Larutan - larutan diphenil Carbazid
- Larutan Na dietil dihikarbamat - Larutan PbO2
- Larutan CuSO4 - larutan asam Nitrat pekat
- Sebuk Zn
- Kertas saring
- Larutan K3Fe (CN)6




HASIL PENGAMATAN

1
a. endapan larut + endapan putih + endapan larut + NHO3 → endapan seperti jarum.
b. endapan kuning, ketika dipanaskan endapan larut dalam air. Ketika ditambah terjadi endapan putih.
c. endapan merah coklat
d. endapan coklat
e. endapan hitam
f. endapan coklat
2
a. tidak terjadi endapan
b. tidak terjadi endapan (bening) ketika dipanaskan larutan tetap bening
c. endapan putih
d. endapan kuning
e. endapan putih
f. endapan hitam
3
a. endapan putih kemudian kuning dan hitam
b. permukaan Cu menjadi abu-abu dan ketika digosok mengkilat
c. endapan menjadi jingga, ketika reagen berlebih maka endapan larut
d. endapan kuning

4
a. endapan coklat
b. endapan merah jingga
c. endapan coklat tua, ketika reagen berlebih endapan larut menjadi larutan kuning. Dan apabila diencerkan endapan coklat → jingga
d. endapan putih
e. endapan putih
5
a. endapan hitam
b. endapan coklat merah
c. endapan biru muda, ketika reagen berlebih endapan menjadi biru tua
d. endapan biru, jika dipanaskan → endapan hitam
e. endapan coklat merah
f. larutan hijau + KCN → hijau kebiruan
g. kuning coklat
6
a. endapan kuning
b. endapan putih, tidak larut dalam reagen berlebih
c. endapan putih, endapan larut dalam reagen berlebih
7
a. endapan kuning
b. endapan kuning
c. endapan hijau, endapan larut dalam larutan dan menjadi larutan biru.
d. dan diletakkan di atas tabung → endapan hitam
8
a. ENDAPAN HITAM
b. endapan biru
c. endapan biru muda
d. endapan hijau, kemudian → coklat
9
a. endapan hitam
b. larutan coklat
c. endapan biru
d. larutan merah darah
e. larutan coklat merah
10
a. endapan putih
b. endapan merah
11
a. endapan abu-abu kehijauan
b. warna hijau
c. endapan hijau
d. endapan hijau abu-abu
12
a. endapan hitam
b. endapan merah
c. endapan hijau
13
a. endapan merah daging
b. endapan putih, kemudian segera berubah menjadi coklat karena pengaruh udara
c. endapan putih, kemudian segera berubah menjadi coklat karena pengaruh udara.
d. endapan coklat merah melayang
14
a. endapan putih
b. bening
c. endapan putih, ketika reagen berlebih endapan akan larut
d. endapan putih, endapan larut ketika endapan berlebih
e. endapan putih, endapan larut dalam larutan NaOH
15
a. endapan putih
b. endapan putih
c. endapan putih
d. endapan putih, endapan tidak larut dalam aqua regia.
e. tidak terjadi endapan
f. endapan kuning
16
a. tidak terjadi endapan
b. endapan putih
c. endapan putih
d. endapan putih, endapan larut dalam aqua regia.
e. endapan putih
f. warna kuning dan tidak terjadi endapan
17
a. endapan putih melayang
b. kemudian dinyalakan → merah karmyn
c. endapan putih
d. endapan putih
e. tidak terjadi endapan
f. tidak terjadi endapan
18
a. endapan putih
b. endapan merah
c. dinyalakan → merah karmyn
d. endapan putih
e. endapan putih melayang
f. endapan putih
g. endapan putih
19
a.
b.
c. mikroskopis seperti sapu
20
a. warna kuning
b.
21
a. endapan coklat
b. gas
Dibuktikan dengan : - Berbau (dari amoniak)
- Lakmus merah berubah menjadi biru
- Ketika batang pengaduk dibasahi dengan HCl dan diletakkan di atas tabung, timbul kabut putih pada batang pengaduk.

PEMBAHASAN

1. Ag+
a.
Jika dengan HCl encer memebntuk endapan putih, jika dengan HCl pekat tidak terjadi endapan. Setelah cairan didekantasi dari atas endapan, ia akan melarut dalam asam klorida pekat. Dengan menambahkan amonium hidroksida encer endapan akan larut. Asam nitrat encer menetralkan kelebihan amonia maka endapan akan muncul kembali membentuk seperti jarum.
b.
Membentuk endapan kuning. Endapan ini tidak larut dalam amonia encer atau pekat, tetapi mudah larut dalam kalium sianida dan natrium fiosulfat. Saat campuran dipanaskan endapan akan larut, dan mebentuk endapan putih ketika ditambahkan dengan HNO3.
c.
Membentuk endapan merah coklat. Endapan akan larut dalam asam nitrat encer dan larutan amonia. Larutan yang diasamkan berubah menjadi jingga karena terbentuk ion-ion dikromat, seperti reaksi :

d.
Membentuk endapan coklat . Suspensi endapan yang telah dicuci dengan baik, menunjukkan reaksi yang sedikit bersifat basa, disebabkan oleh kesetimbangan hidrolisis:

Endapan tak larut dalam reagensi berlebih. Endapan melarut dalam larutan amonia (a) dan asam nitrat (b).

e.
Membentuk endapan hitam. Asam nitrat pekat panas menguraikan pekat sulfida, dan belerang tertinggal dalam bentuk endapan putih. Jikacampuran dipanaskan dengan asam nitrat pekat dalam waktu yang lama, belerang akan dioksidakan menjadi sulfat dan endapan hilang.

Endapan tak larut dalam amonium sulfida, amonium polisulfida, amonia, kalsium sianida, atau natrium tiosulfat.
f.
Membentuk endapan coklat.

Reaksi mencapai kesetimbangan dan karenanya pengendapan tidak sempurna pada tingkat manapun. Endapan larut dalam reagen berlebih.
2.
a)
Tidak terjadi endapan
b)
Tidak terjadi endapan
c)
Membentuk endapan putih. . Endapan ini tidak larut dalam reagensia berlebih. Asam sulfat yang panas, pekat, melarutkan endapan karena terbentuk timbel hidrogen sulfat.

Endapan timbel sulfat larut dalam larutan amonium asetat yang agak pekat atau amonium tartrat yang agak pekat.
d)
Membentuk endapan kuning. Asam nitrat atau natrium hidroksida melarutkan endapan.

Kedua reaksi reversibel, dengan membuferkan larutan, masing-masing dengan amonia dan asam asetat, timbel kromat mengendap lagi.
e)
Membentuk endapan putih. Endapan larut dalam reagen berlebih yang membentuk ion tetra hidroksoplumbat (II) :

Jadi timbel hidroksida mempunyai sifat amfoter. Hidrogen peroksida atau amonium peroksodisulfat, bila ditambahkan pada larutan tetrahidroksoplumbat (II) membentuk endapan hitam timbel dioksida dengan mengoksidasi timbel bivalen menjadi benvalensi empat.
f)
Membentuk endapan hitam. Pengendapan tidak sempurna jika ada asam mineral kuat dengan kosentrasi lebih dari 2 M.
3.
a.
Terbentuk endapan putih kemudian kuning dan hitam.
b.
Permukaan Cu yang mengkilap, terbentuk endapan logam merkurium :

Dengan membilas, mengeringkan dan menggosok-gosok permukaan itu. Kita memperoleh bercak keperak-perakan yang mengkilap. Dengan memanaskannya, merkurium menguap dan permukaan Cu yang merah nampak lagi.
c.
Membentuk endapan merah jingga dan ketika reagen berlebih maka endapan akan larut.
d.
Terbentuk endapan kuning. Endapan tidak larut dalam reagen berlebih, tetapi mudah larut dalam asam nitrat encer.
4.
a. Terbentuk endapan coklat
b.
Endapan merah jingga dalam larutan asam encer (cinchonine).
c. endapan coklat tua,

Endapan mudah larut dalam reagensia berlebih, yang membentuk ion tetraiodobismutat yang berwarna jingga : . Bila diencerkan dengan air, reaksi diatas akan berbalik, dan bismutiodida diendapkan lagi. Dengan memanaskan endapan dengan air, ia berubah menjadi jingga oleh pembentukan bismutil iodida.

d.
Membentuk endapan putih. Endapan hanya sedikit larut dalam reagensia berlebih dalam larutan dingin. Endapan dapat larut dalam asam. Bila di didihkan endapan kehilangan air dan menjadi putih kekuningan.
e.
Membentuk endapan putih. Endapan hanya sedikit larut dalam asam meneral encer.
5.
a.
Membentuk endapan hitam. Larutan harus asam untuk memperoleh endapan kristalin yang mudah disaring. Tanpa adanya asam diperoleh endapan koloid yang hiatm kecoklatan.

b.
Membentuk endapan coklat kemerahan yaitu tembaga heksasianoferat (II) dalam suasana netral atau asam.

Endapan larut dalam larutan amonia, dengan terbentuk ion tembaga tetraamina yang biru tua.
c.
Endapan biru muda, yang larut dalam reagensia berlebih sehingga terbentuk warna biru tua yang disebabkan oleh terbentuknya ion kompleks tetraaminokuprat (II).

d.
Terbentuk endapan biru, endapan tidak larut dalam reagen berlebih. Bila dipanaskan, endapan menjadi hitam oleh dehidratasi.

Dengan adanya asam tartarat atau asam sitrat dalam larutan tidak di endapkan oelh larutan basa alkali, tetapi larutan menjadi biru.
e.
Terbentuk endapan hijau dan jika ditambah dengan KCN lagi endapan menjadi hijau kebiruan.
f.
Terbentuk endapan kuning coklat
6.
a.
Terbentuk endapan kuning. . Reaksi ini dapat balik, jika kosentrasi asam kuat dalam larutan diatas 0,5 M, pengendapan akan tidak sempurna. Asam pekat melarutkan endapan oleh sebab yang sama. Endapan tak larut dalam kalium sianida.

b.
Terbentuk endapan putih. Endapan tidak larut dalam reagen berlebih, warna dan komposisinya tetap tidak berubah bila di didihkan. Asam encer melarutkan endapan.
c.
Terbentuk endapan putih. Endapan dapat larut dalam asam dan dengan reagensia berlebih endapan dapat larut.
7.
a.
Terbentuk endapan kuning. Larutan harus sangan bersifat asam. Jika tidak hanya terlihat larutan berwarna kuning. Endapan tidak larut dalam HCl pekat, tetapi ;arut dalam asam nitrat pekat.
b.
Terbentuk endapan kuning. Endapan dapat larut dalam asam nitrat maupun amonia.
c.
Terbentuk endapan hijau. Endapan dapat larut dalam asam dan juga dalam larutan amonia dengan membentuk endapan biru.
d.
Terbentuk endapan hitam setelah dipanaskan dan meletakkan kertas saring yang dibasahi di atas mulut tabung.
8.
a.
Terbentuk endapan hitam
b.
Terbentuk endapan biru
c.
Terbentuk endapan biru muda
d.
Terbentuk endapan hijau kotor kemudian menjadi coklat.
9.
a.
Terbentuk endapan hitam
b.
Dihasilkan endapan coklat, oleh pembentukan kompleks yang tak terdisosiasi. Dengan menambahkan hidrogen perioksida atau sedikit larutan timah (II) klorida, bagian heksasiano Ferat (III) dari senyawa ini direduksi dan di endapkanlah biru prusia.
c.
Dihasilkan endapan biru. Endapan tidak larut dalam asam encer, tetapi dapat terurai dalam HCl pekat. Reagen yang berlebihan melarutkan sebagian atau seluruh endapan.
d.
Dihasilkan larutan merah darah yang disebabkan karena pembentukan suatu kompleks besi (III) tiosianat yang tidak berdisosiasi. Molekul yang tak bermuatan ini dapat diekstraksi oleh efer atau amil alkohol.
e.
Diperoleh warna coklat merah yang disebabkan oleh pembentukan ion kompleks.
10.
a.
Dihailkan endapan putih
b.
Dihasilkan endapan merah dalam larutan amoniakal, yang cukup stabil terhadap asam asetat encer.
11.
a.
Endapan abu-abu kehijauan
b.
Dihasilkan warna hijau. Dalam larutan asam mineral encer, difenilkarbazid menghasilkan warna lembayung yang merupakan uji khas terhadap kromium.
c.
Dihasilkan endapan hijau. Endapan larut dalam asam-asam mineral, tetapi tidak larut dalam asam asetat encer dingin.
d.
Dihasilkan endapan hijau abu-abu.
12.
a.
Dihasilkan endapan hitam nikel sulfida dari larutan atau sedikit basa. Jika reagen berlebih terbentuk larutan koloid coklat tua.
b.
Dihasilka endapan merah nikel dimetilglioksim dari larutan yang tepat basa dengan amonia atau larutan asam yang dibufferkan dengan natrium asetat.
c.
Dihasilkan endapan hijau. Endapan tidak larut dalam reagen berlebih. Amonia dapat melarutkan endapan.
13.
a.
Terbentuk endapan merah daging
b.
Dihasilkan endapan putih. Endapan tidak larut dalam reagen berlebih. Endapan dengan cepat teroksidasi bila terkena udara menjadi coklat.
c.
Dihasilkan endapan putih. Endapan larut dalam garam 3 amonium. Endapan dengan cepat teroksidasi bila terkena udara menjadi coklat.

d.
Terbentuk endapan coklat merah melayang.
14.
a.
Dihasilkan endapan putih zink sulfida dari larutan netral atau basa. Endapan tidak larut dalam reagensi berlebih, dalam asam asetat dan dalam larutan basa alkali, tetapi larut dalam asam-asam mineral encer.
b.
Campuran menjadi bening
c.
Terbentuk endapan putih, yaitu zink hidroksida. Endapan akan larut dalam asam dan juga dalam reagensia berlebih.
d.
Terbentuk endapan putih yang mudah larut dalam reagensia berlebih dan dalam larutan garam amonium, karena menghasilkan tetraamina zinkat (II).
e.
Terbentuk endapan putih, endapan larut dalam larutan NaOH

15.
a.
Terbentuk endapan putih
b.
Terbentuk endapan putih yang dapat larut dalam asam asetat dan dalam asam mineral encer
c.
Terbentuk endapan putih yang hanya sedikit larut dalam air, tetapi dilarutkan dengan mudah oleh asam asetat encer dan oleh asam mineral.


d.
Terbentuk endapan putih yang berbutir halus, berat dan tidak larut dalam aquaregia dan dapat larut dalam asam sulfat pekat mendidih.
e.
Tidak terjadi endapan
f.
Terbentuk endapan kuning. Endapan tidak larut dalam asam asetat encer tetapi dapat larut dalam asam mineral.

16.
a.
Tidak terjadi endapan
b.
Terbentuk endapan putih, endapan dapat larut dalam air yang mengandung asam karbonat berlebih karena pembentukan kalsium hidrogen karbonat yang larut.
c.
Menghasilkan endapan putih. Pengendapan dipermudah dengan menjadikan larutan bersifat basa dengan amonia.
d.
Menghasilkan endapan putih, endapan dapat larut dalam asam sulfat pekat dan dalam aqua regia.
e.
Menghasilkan endapan putih. Dengan adanya amonium klorida, uji ini akan lebih peka. Dalam hal ini kalium digantikan oleh ion-ion amonium dalam endapan. Uji ini dapat dipakai untuk membedakan kalsium dari strontium.

f.
Warna kuning dan tidak terjadi endapan
17.
a.
Terjadi nedapan putih melayang-layang
b. Reaksi nyala → merah karmyn SrCl2 dikeringkan dengan cara dibakar kemudian ditambah dengan dan metanol kemudian dinyalakan dengan korek api akan timbul merah karmyn.
c.
Terdapat endapan putih. Endapan tak larut dalam larutan amonium sulfat bahkan dengan mendidihkan dan larut sedikit dalam asam klorida mendidih.

d.
Terdapat endapan putih strentium oxalat. . Endapan hanya sedikit larut dalam air dan endapan larut dalam asam-asam mineral.
e.
Tidak terjadi endapan
f.
Tidak terjadi endapan
18.
a.
Terdapat endapan putih
b.
Menghasilkan endapan merah. Titan yellow adalah zat pewarna kuning yang larut dalam air. Ia diabsabsi oleh magnesium hidroksida, meghasilkan warna atau endapan merah tua.
c. Reaksi nyala → merah karmyn. dibakar sampai kering kemudian ditambah dan metanol kemudian dinyalakan dengan korek api akan timbul nyala merah karmyn.
d.
Terdapat endapan putih, jika ada serta amonium klorida dan larutan amonia.
e.
Terdapat endapan putuh melayang yang tidak larut dalam reagensia berlebih, tetapi mudah larut dalam garam-garam amonium.

f.
Terdapat endapan parsial yang putih dan seperti gelatin.

Endapan sedikit dalam air dan mudah larut dalam garam-garam amonium.
g.
Terdapat endapan putih, bervolume besar, yaitu karbonat basa yang tak larut dalam larutan basa tetapi mudah larut dalam asam dan larutan garam amonium.
19.
a. Reaksi nyala → ungu
KCl dibakar sampai kering kemudian ditambah dengan dan metanol. Kemudian dinyalakan dengan korek api akan timbul nyala ungu.
b. KCl + asam tartrat →
Terdapat endapan putih.

Jika asam tartrat yang dipakai, larutan harus dibufferkan dengan natrium asetat. Karena asam kuat yang terbentuk dalam reaksi diatas melarutkan endapan. Basa-basa (alkali) kuat juga melarutkan endapan.
c. KCl + asam pikrat →
Terbentuk endapan mikroskopis seperti sapu
20.
a. Reaksi nyala → kuning
b. NaCl dikeringkan dengan dibakar kemudian ditambah dengan dan metanol, lalu dinyalakan dengan korek api akan timbul nyala kuning. Warna kuning timbul oleh uap garam natrium. Warna ini tak terlihat bila dipandang melalui 2 lapisan lempeng kaca kobalt yang biru. Garam natrium dalam jumlah yang sedikit memberi hasil positif pada uji ini dan hanya warna yang kuat dan bertahan lama yang menunjukkan bahwa natrium terdapat dalam jumlah yang berarti.
21.
a.
Terdapat endapan coklat yang dihasilkan sesuai dengan jumlah amonia atau ion amonium. Endapan adalah merkurium (II) amidoiodida basa :

Rumus endapan coklat ditulis sebagai dan sebagai .
b.
Akan timbul gas ketika dipanaskan yang dapat dibuktikan dengan :
a) Berbau spesifik (amoniak)
b) Mengubah kertas lakmusmerah jadi biru
c) Ketika batang pengaduk yang dibasahi dengan HCl dan diletakkan di atas mulut tabung timbul kabut putih pada batang pengaduk.










KESIMPULAN
1. Analisis kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan.
2. Di dalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu diantaranya :
a) Kation golongan I terdiri atas tiga ionlogam yang garam kloridanya tidak larut dalam larutan asam.
b) Kation golongan II merupakan endapan yang dihasilkan dari penambahan hidrogen sulfida dalam suasana asam encer kedalam larutan sampel kation ini dapat bereaksi dengan asam klorida.
c) Kation golongan III tidak dapat bereaksi dengan asam klorida encer ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer.
d) Kation golongan IV tidak dapat bereaksi dengan golongan I, II, III. Tapi membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium klorida.
e) Kation golongan V tidak dapat bereaksi dengan reagensia golongan sebelumnya. Kation ini memiliki derajat kelarutan yang sangat tinggi sehingga kadang-kadang disebut sebagai golongan larut.
3. Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, yaitu uji kering (reaksi nyala dengan kawat nikrom, reaksinya nyala beilstein, reaksi nyala untuk borat) dan reaksi basah.



DAFTAR PUSTAKA

- Munzil, S.Pd, M.Si. 2004. Kimia Analitik I. Malang: Jica
- Vogel. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan semi Mikro. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka. 1990
- http://kimiaanalitik.bukupanduan.com/2009/09/08

METODE ANALISIS KUALITATIF (anion)

METODE ANALISIS KUALITATIF


Pendahuluan

Analisis kualitatif yang bertujuan utama untuk mengenali komposisi atau struktur bahan kimia, cukup banyak jenisnya, sesuai dengan jenis bahan kimia yang terdapat dalam sampel. Analisis kualitatif untuk bahan organik biasanya menjadi bagian kimia organik sehingga tidak dimasukkan dalam bagian kimia analitik. Bahan kimia dalam sampel anorganik juga cukup banyak ragamnya sesuai dengan struktur dari bahan tersebut. Bahan kimia anorganik molekuler berbeda cara penetapannya dengan bahan kimia anorganik ionik.
Analisis kualitatif kation dan anion secara sistematis telah berkembang cukup lama. Berkat kajian yang dilakukan oleh Karl Remeegius Fresenius sejak tahun 1840, yang kemudian diterbitkan sebagai buku pada tahun 1897. langkah-langkah analisis kation dan anion dapat dilakukan secara sistematis melalui diagram alir, yang sampai saat ini menjadi standar untuk kajian analisis kualitatif bahan organik.
Analisis anion lebih sederhana dibandingkan analisis kation, tetapi analisis kualitatif anion memerlukan ketelitian dalam melakukan observasi dari gejala-gejala yang timbul. Dalam setiap kegiatan analisis kualitatif pengamatan visual merupakan hal yang penting. Warna adalah penting , karena beberapa ion anorganik dapat diketahui dari warnanya yang spesifik.
Analisis kation dan anion sering kali dapat dibantu oleh diagram alir, yang menggambarkan langkah-langkah sistematis untuk mengidentifikasi jenis anion dan kation. Diagram alir untuk analisis kation lebih sistematis dibandingkan diagram alir analisis anion. Dalam diagram alir analisis kualitatif anion dan kation dimulai dari ion yang ditanyakan, pereaksi yang perlu ditambahkan, kondisi eksperimen dan rumus kimia produk yang dihasilkan. Dalam kerja laboratorium yang berkaitan dengan analisis ion sangat penting mengikuti urutan dari langkah-langkah analisis yang telah ditetapkan dalam diagram alir.
(Ibnu,M.Sodiq dkk.Kimia Analitik I, Malang:JICA,2002 hlm:34-35)

REAKSI IDENTIFIKASI ANION

I. Tujuan
 Praktikan mampu melakukan analisis kualitatif dengan cara mengidentifikasi adanya anion dalam suatu sampel.
 Analisa kualitatif ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis serta mendeteksi keberadaan unsur kimia dalam suatu sample atau cuplikan yang tidak diketahui.
 Mempelajari karakteristik anion dalam larutan tertentu.
 Mengidentifikasi dan mendeteksi jenis anion pada sample tertentu.

II. DASAR TEORI
Analisis anion diawali dengan uji pendahuluan untuk memperoleh gambaran ada tidaknya anion tertentu atau kelompok anion yang memiliki sifat-sifat yang sama. Selanjutnya diikuti dengan proses analisis yang merupakan uji spesifik dari anion tertentu. Beberapa uji pendahuluan dan uji identifikasi dapat dilakukan dalam fasa padatan, tetapi untuk memperoleh validitas pengujian yang tinggi biasanya dilakukan dalam keadaan larutan.
Beberapa anion tidak stabil dalam larutan asam, atau bereaksi satu sama lain dalam suasana asam. Bila terjadi keaadaan asam, maka analisis anion harus dilakukan dalam asuasana basa.
Analisis anion yang sering dilakukan meliputi 11 anion yang paling umum yaitu:
1. anion sulfida (S2-)
2. sulfit (SO32-)
3. karbonat (CO32-)
4. nitrit (NO22-)
5. iodida (I-)
6. bromida (Br-)
7. klorida (Cl-)
8. fosfat (PO43-)
9. kromat (CrO42-)
10. nitrat (NO3-)
11.Sulfat (SO42-)
Analisis kualitatif sebagian besar didasarkan pada kesetimbangan untuk memisahkan dan mengidentifikasi ion yang sejenis. Kesetimbanagn yang sering digunakan dalam analisis anion yaitu kesetimbangan asam basa,kesetimbangan heterogen, kesetimbangan redoks dan kesetimbangan ion kompleks.

III. ALAT DAN BAHAN

3.1. ALAT-ALAT
 Tabung reaksi
 Rak tabung reaksi
 Penjepit tabung
 Batang pengaduk
 Cawan porselen
 Pembakar spirtus
 Korek api
 Pipet tetes

3.2. BAHAN-BAHAN
Na2CO3 Na2S Klorofom
AgNO3 MnCl2 Aquades
HNO3 Cd Asetat HgCl2
NH3 NaNO2 KCNS
HCl encer FeSO4 FeCl3
BaCl2 KI CuSO4
MgSO4 H2NO2 Ba4O72-
Barium hidroksida Amylum Na Borax
NaHSO3 FeSO4 jenuh BaCl2
KCr2O7 Serbuk Zn Na Fosfat
H2SO4 NaOH Ammonium Mobibdat
KMnO4 Mg Mixture Kertas lakmus merah
I2 HCl K2CrO4
Pb(NO3)2 NaCl H2O2
NaS2O3 COONa Kertas lakmus Biru
FeCl3 KBr2 Alkohol
Na2SO4 Fluorescein KOH Pekat
NaNO2 H2C2O4
IV. DATA PENGAMATAN

1. Karbonat
a. Na2CO3 + AgNO3 menghasilkan endapan putih.(terbukti)
b. NaCO3 + HCl encer akan menghasilkan gas encer ketika batang pengaduk dibasahi dengan Barium Hidroksida diatas mulut tabung pada batang pengaduk terdapat endapan putih.(terbukti)
c. Larutan Na2CO3 + MgSO4 akan menghasilkan endapan putih. (terbukti)
d. Larutan Na2CO3 + BaCl2 akan menghasilkan endapan putih. (terbukti)
2. Bikarbonat
a. NaHSO4 + AgNO3 menghasilkan endapan putih.(terbukti)
b. NaHSO4 + HCl menghasilkan gas CO2 ketika batang pengaduk dibasahi dengan Barium hidroksida didekatkan diatas mulut tabung pada batang pengaduk terdapat endapan putih. (Terbukti)
c. NaHSO4 + MgSO4 tidak menghasilkan endapan putih.(terbukti)
d. NaHSO4 + BaCl2 menghasilkan endapan putih.(terbukti)
3. Sulfit
a. Na2SO3 + AgNO3 menghasilkan endapan putih. (terbukti)
b. Na2SO3 + HCl encer menghasilkan gas CO2.(terbukti)
c. KMnO4 + H2SO4 + Na2SO3 maka warna ungu dilunturkan. (terbentuk)
d. K2Cr2O7 + H2SO4 encer + Na2SO3 maka terbentuk warna hijau. (terbukti)
e. I2 + H2SO4 + Na2SO3 maka warna coklat dilunturkan.(terbukti)
f. Na2SO3 + Pb(NO3)2 terbentuk endapan putih.(terbukti)
g. Na2SO3 + BaCl2 terjadi endapan putih.(terbukti)
4. Thiosulfat
a. NaS2O3 + AgNO3 terbentuk endapan endapan putih kemudian berubah menjadi kuning kecoklatan dan terakhir coklat.(terbukti)
b. NaS2O3 + HCl encer menghasilkan gas SO2.(terbukti)
c. NaS2O3 + FeCl3 menghasilkan warna kuning muda.(terbukti)
d. I2 + NaS2O3 maka warna coklat dilunturkan.(terbukti)
e. NaS2O3 + Cd Asetat menghasilkan endapan putih.(terbukti)
5. Sulfat
a. Na2SO4 + AgNO3 tidak terbentuk endapan.(terbukti)
b. Na2SO4 + BaCl2 terbentuk endapan putih.(terbukti)
6. Sulfida
a. Na2S + AgNO3 tidak terbentuk endapan putih.(terbukti)
b. Na2S + HCl encer maka terbentuk gas.(terbukti)
c. Na2S + Pb(NO3)2 maka terbentuk endapan hitam.(terbukti)
d. Na2S + MnCl2 menghasilkan endapan merah jambu.(terbukti)
e. Na2S + Cd Asetat terbentuk endapan putih.(tidak terbukti)
7. Nitrit
a. NaNO2 + AgNO3 terbentuk endapan putih.(terbukti)
b. FeSO4 + H2SO4 encer + NaNO2 terbentuk cincin coklat diantara dua larutan tersebut.(terbukti)
c. KMnO4 + H2SO4 + NaNO2 maka warna ungu dilunturkan. (terbukti)
d. KI + H2NO2 + H2SO4 encer menghasilkan gas I2.(terbukti)
8. Nitrat
a. NaNO3 + AgNO3 tidak terbentuk endapan.(terbukti)
b. NaNO3 + FeSO4 jenuh + H2SO4 terbentuk cincin coklat.(terbukti)
c. NaNO3 + Serbuk Zn + NaOH + dipanaskan menghasilkan gas NH3-.(terbukti)
9. Klorida
a. NaCl + AgNO3 menghasilkan endapan putih.(terbukti)
b. NaCl + H2SO4 pekat + dipanaskan menghasilkan gas.(terbukti)
c. NaCl + Pb(NO3)2 tidak terjadi endapan.(tidak terbukti)
10. Bromida
a. KBr2 + AgNO3 terbentuk endapan kuning muda.(terbukti)
b. KBr2 + HNO3 pekat + dipanaskan menghasilkan uap warna coklat merah.(terbukti)
11. Iodida
a. KI + AgNO3 terbentuk endapan kuning.(terbukti)
b. KI + H2SO4 menghasilkan uap warna ungu.(terbukti)
c. KI + Pb(NO3)2 terbentuk endapan kuning.(terbukti)
d. KI + AgCl2 terbentuk endapan merah jingga.(terbukti)
12. Rodanida/tiosianat (CNS-)
a. KCNS + AgNO3 terbentuk endapan putih.(terbukti)
b. KCNS + FeCl3 menghasilkan larutan berwarna merah darah. (terbukti)
c. KCNS + CuSO4 menghasilkan larutan berwarna hijau.(terbukti)
13. Borat
a. B4O72- + AgNO3 terbentuk endapan putih.(terbukti)
b. Na tetraborat dikeringkan dalam cawan porselen + H2SO4 pekat + metanol + dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. (terbukti)
c. B4O72- + BaCl2 terbentuk endapan putih.(terbukti)
14. Fosfat
a. Na fosfat + AgNO3 terbentuk endapan kuning.(terbukti)
b. Na fosfat + amonium mobibdat + HNO2 + dipanaskan tidak terbentuk endapan kuning.(terbukti)
c. Na fosfat + Mg mixtur terbentuk endapan putih.(terbukti)
15. Kromat
a. K2CrO4 + AgNO3 terbentuk endapan merah coklat.(terbukti)
b. K2CrO4 + Pb(NO3)2 terbebtuk endapan kuning.(terbukti)
c. K2CrO4 + BaCl2 terbentuk endapan kuning.(terbukti)
d. K2CrO4 + H2SO4 encer + H2O2 menghasilkan larutan berwarana biru tua,kemudian timbul gas dan larutan berubah menjadi hijau. (terbukti)
e. K2CrO4 + HCl encer menghasilkan larutan berwarna orange. (terbukti)
f. K2CrO4 + NaOH encer meghasilkan larutan berwarna kuning. (terbukti)
16. Dikromat
a. K2Cr2O7 + AgNO3 terbentuk endapan berwarna merah coklat. (terbukti)
b. K2Cr2O7 + Pb(NO3)2 terbentuk endapan kuning.(terbukti)
c. K2Cr2O7 + BaCl2 terbentuk endapan kuning.(terbukti)
d. K2Cr2O7 + H2SO4 menghasilkan larutan biru tua kemudian timbul gas dan larutan berubah menjadi hijau.(terbukti)
e. K2Cr2O7 + HCl encer menghasilkan larutan berwarna orange. (terbukti)
f. K2Cr2O7 + NaOH encer menghasilkan larutan berwarna kuning. (terbukti)
17. Asetat
a. Na Asetat + alkohol + H2SO4 pekat + dipanaskan menghasilkan bau harum dari asetat.(terbukti)
b. Na Asetat + FeCl3 menghasilkan larutan berwarna coklat.(terbukti)
18. Permanganat
a. KMnO4 + AgNO3 tidak terjadi perubahan warna(warna tetap ungu. (terbukti)
b. KMnO4 + KOH pekat + dipanaskan menghasilkan larutan berwarna ungu + air dan diasamkan dengan asam sulfat encer →ungu. (terbukti)
c. KMnO4 + H2SO4 encer + H2O2 maka warna ungu dari KMnO4 dilunturkan.(terbukti)
d. KMnO4 + H2SO4 + NaNO2 maka warna ungu dari KMnO4 dilunturkan.(terbukti)
e. KMnO4 + H2SO4 + FeSO4 maka warna ungu dari KMnO4 dilunturkan.(terbukti)
f. KMnO4 + H2SO4 encer + H2C2O4 + dipanaskan maka warna ungu dari KMnO4 dilunturkan.(terbukti)

V. Pembahasan
1. karbonat (CO32-)
a) NaCO32- + AgNO3 → ↓ putih
Ketika ditambah dengan reagen berlebih endapan berubah menjadi kuning, karena terbentuknya perak oksida.
Ag2CO3 ↓ → Ag2O ↓ + CO2 ↑
Endapan larut dalam asam nitrat dan dalam amonia, dengan reaksi :
Ag2CO3 + 2H+ → 2Ag+ + ↓ CO2 + H2O
Ag2CO3 + 4NH3 → 2 (Ag(NH3)2) + CO32-
b) NaCO32- +HCl encer → gas CO2 (gas tidak berwarna dan tidak berbau)
c) NaCO32- + MgSO 4 → ↓ putih
Penambahan MgSO4 terhadap larutan CO32- menghasilkan pengendapan yaitu terbentuknya endapan putih MgSO4.
d) NaCO32- + BaCl → ↓ putih
CO32- + Ba2+ → ↓ BaCO3
2. Bikarbonat
a) NaHSO3 + AgNO3 →↓putih
b) NaHSO3+ HCl →gas CO2
Gas yang dihasilkan tidak berbau dan juga tidak berwarna, dan dapat dibuktikan dengan :
Batang pengaduk yang dibashi dengan barium hidroksida dan diletakkan diatas mulut tabung reaksi maka akan terbentuk endapan putih.
c) NaHSO3+ MgSO4 →tidak terjadi endapan putih.
Ini yang membedakannya dengan karbonat ketika direaksikan dengan magnium sulfat, pada karbonat maka akan menghasilkan endapan. Tetapi pada bikarbonat setelah dipanaskan baru membentuk endapan putih.
d) NaHCO3+ BaCl2→↓putih
3. Sulfit (SO32-)
a) NaSO32- + AgNO3 → ↓ putih
SO32- + Ag+ → (AgSO3)-
Dengan menambahkan reagensia lebih banyak maka akan terbentuk endapan kristalin, perak sulfit :
(AgSO)- + Ag+ → ↓ Ag2SO3
b) NaSO32- + HCl encer → gas SO2- (gas tidak berwarna dan berbau seperti belerang dibakar).
Gas SO2- dibuktikan dengan :
1. dari bau belerang terbakar
2. kertas saring yang berubah warna menjadi hijau, yang disebabkan oleh perubahan ion-ion kromium (III) yang dihasilkan bila sehelai kertas saring dibasahi dengan larutan KCr2O72- yang telah diasamkan, dengan cara diletakkan diatas mulut tabung reaksi.
3SO2 + Cr2O72- + 2H+ → 2Cr3+ + 3SO42- + H2O
c) KMnO4 + H2SO4 encer → larutan ungu + NaSO32- → warna ungu dilunturkan.
Warna ungu pada KMnO4 dilunturkan asam menjadi hilang disebabkan oleh reduksi menjadi ion-ion mangan (II) :
5SO32- + 2MnO4- + 6H+ → 2Mn2+ + 5SO42- + 3H2O
d) KCr2O72- + H2SO4 + NaSO32- → larutan ungu
larutan berubah menjadi hijau disebabkan oleh pembentukan ion-ion kromium (III) :
3SO32- + Cr2O72- +8H+ → 2Cr3+ + 3SO42- +4H2O
e) I2 + H2SO4 → larutan coklat → NaSO32- → warna coklat dilunturkan.
f) NaSO32- + Pb(NO2)3 → ↓ putih timbal sulfit.
SO32- + Pb2+ → ↓ PbSO3
g) NaSO32- + BaCl → ↓ putih barium sulfit
SO32- + Ba2+ → BaSO3 ↓
4. Thiosulfat(S2O32-)
a) NaSO3- + AgNO3 → ↓ putih berubah menjadi kuning-coklat-hitam.
S2O32- + 2Ag+ → ↓ Ag2S2O3
Mula-mula tidak terbentuk endapan, karena berbentuk komplek ditiosulfatoar gertat ( I ) yang larut :
2S2O32- + Ag+ → (Ag (SO2O3)2)2-
endapan ini tidak stabil, berubah menjadi gelap setelah didiamkan.
b) NaS2O3 + HCl encer → gas SO2
Dibuktikan dengan :
1. bau belerang dibakar
2. kertas saring yang dibasahi dengan larutan KCr2O72- dan H2SO4, maka kertas saring akan berubah warna dari warna orange menjadi hijau.
c) Na2S2O3 + FeCl3+ → larutan ungu
Warna ungu disebabkan karena terbentuknya suatu komplek ditiosulfato besi (III)
2S2O32- + Fe3+ → (Fe (S2O3)2)-
d) I2 + NaS2O3 → warna coklat dilunturkan
Hilangnya warna coklat karena terbentuknya ion titrationat yang tidak berwarna.
I2 + 2S2O32- → 2I- + S4O62-
e) Na2S2O3 + Pb(NO2)3 → mula-mula tidak terjadi endapan putih, tetapi ketika reagensia berlebih terbentuk endapan putih PbS2O3.
S2O32- + Pb2+ → ↓ PbS2O3
Dengan mendidihkan suspensi, endapan akan berubah menjadi hitam (gelap) yaitu membentuk endapan hitam timbaksulfida :
↓ PbS2O3 + H2O → PbS ↓ + 2H+ + SO42-
5. Sulfat (SO42-)
a) NaSO4 + AgNO3 → tidak terbentuk endapan
b) NaSO4 + BaCl2 → ↓ putih
Adanya ion sulfat SO42- dapat diidentifikasi dengan penambahan larutan BaCl2 dalam suasana asam. Pada larutan sampel pembentukan endapan putih barium sulfat (BaSO4) menunjukkan adanya ion SO42- pada larutan sampel.
Ba2+ + SO42-(aq) → BaSO4(s).
6. Sulfida
a) Na2S2- + AgNO3 → ↓ hitam perak sulfida
Endapan tidak larut dalam asam nitrat encer dingin tetapi larut dalam asam nitrat panas.
S2- + 2Ag+ → Ag2S ↓
b) Na2S + HCl encer → Gas H2S,
yang bisa diidentifikasi dengan :
1. Bau yang spesifik
2. Menghitamnya kertas saring yang telah dibasahi dengan larutan Pb (NO3)-.
S2- + 2H+ → Gas H2S
H2S + Pb2+ → ↓ PbS
c) Na2S + Pb (NO3)2 → ↓ hitam PbS
d) Na2S + MgCl → ↓ Merah jambu
e) Na2S + Cd asetat → ↓ kuning
7. Nitrit (NO2-)
Uji adanya ion nitrit didasrkan atas kemampuannya sebagai bahan pengoksidasi. Larutan uji harus dibuat sedikit bersuasana asam dengan menambahkan asam sulfat/asam asetat.
Nitrit bersifat oksidator dan reduktor.
a) NaNO2- + AgNO3 → ↓ putih
b) FeSO4 + H2SO4- + NaNO2- secara pelan-pelan melalui dinding tabung reaksi → cincin coklat pada pertemuan kedua larutan.
Terbentuknya cincin coklat menandakan bahwa didalam sampel terdapat ion nitrit.
c) KMnO4 + H2SO4 encer → larutan ungu + NaNO2- → warna ungu dilunturkan.
Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa NaNO2- berfungsi melunturkan warna ungu dari KMnO4 dan mengindikaiskan bahwa dalam sampel mengandung ion nitrit.
d) KMnO4 + H2SO4 encer → gas I2 (gas berwarna)
Timbulnya gas I2 dibuktikan dengan cara : Kertas saring dibasahi dengan larutan amylum, maka kertas saring akan berubah warnanya menjadi biru.
8. Nitrat (NO3-)
Uji identifikasi untuk nitrat (NO3-) hampir sama dengan uji identifikasi nitrit (NO2-), tetapi konsentrasi hidrogen atau keasamannya lebih tinggi. Jika NO2- bersifat oksidator dan reduktor maka NO3- hanya sebagai oksidator.
a) NaNO3- + AgNO3 →tidak terbentuk endapan
b) NaNO3- + FeSO4 + H2SO4 →cincin coklat
Ketika ditambahkan dengan H2SO4 secara pelan-pelan melalui dinding tabung reaksi, maka akan terbentuk cincin coklat diantara dua larutan.
Terbentuknya cincin coklat menunjukkan bahwa sampel mengandung ion NO3-.
c) NaCl + PbNO3 →↓putih
Ketika dipanaskan endapan akan larut, kemudian setelah mendidih akan terbentuk endapan berbentuk jarum.
9. Klorida (Cl-)
a) NaCl + AgNO3 →↓putih AgCl
Endapan larut dalam NH4OH encer tetapi tidak larut dalam HNO3 encer.
Cl- + Ag+ →↓AgCl
↓ AgCl + 2NH3 →(Ag (NH3)2)+ + Cl-
(Ag(NH3)2)+ + Cl- + 2H+ →↓AgCl + 2NH4+
b) NaCl + H2SO4 + dipanaskan →gas
Dapat dibuktikan dengan :
1. Kertas lakmus biru menjadi merah jika diletakkan diatas tabung reaksi.
2. Batang pengaduk yang dibasahi dengan amonia, maka akan terbentuk kabut putih pada batang.
c) NaCl + Pb(NO3) → Tidak terjadi endapan
Dalam percobaan ini tidak terjadi endapan putih disebabkan jumlah larutan yang dicampurkan tidak sama, dan ketika dipanaskan kemudian didihkan tidak terjadi endapan berbentuk jarum.
10. Bromida (Br-)
a) KBr + AgNO3 →↓kuning
Br- + Ag+ → ↓ AgBr
b) KBr + HNO3 pekat + dipanaskan →uap warna coklat merah.
Uap ini dapat dibuktikan dengan :
Kertas saring yang dibasahi dengan larutan fluorescein yang diletakkan diatas tabung maka akan berubah menjadi merah jingga.
Uji fluorescein brom bebas mengubah zat warna fluorescein ( I ) yang kuning menjadi eosin (II) atau tetra bromo fluorescein yang merah. Maka kertas saring yang dijenuhi dengan larutan fluorescein adalah resensia yang berharga untuk uap brom, karena kertas akan memperoleh warna merah.

11. Iodida (I-)
a) KI2 + AgNO3 →↓kuning
Yaitu perak iodida (AgI-), yang mudah larut dalam kalium sianida dan dalam larutan Natrium thiosulfat sangat sedikit larut dalam amonia pekat dan tidak larut dalam asam nitrat encer.
I- + Ag+ →AgI
↓ AgI + 2CN- →(Ag (CN)2)- + I-
↓ AgI + 2S2O32- →(Ag (S2O3)2)3- + I-
b) KI2 + H2SO4 →uap warna ungu
Dapat dibuktikan dengan :
1. ketika larutan + klorofom →lapisan kloroform berwarna ungu
2. kertas saring yang dibasahi dengan larutan amylum yang diletakkan diatas mulut tabung maka akan berubah warna menjadi biru.
c) KI2 + Pb(NO3) →↓kuning
Jika diencerkan dengan aquades endapan akan larut, kemudian jika didinginkan akan terbentuk endapan lagi yang berbentuk keping-keping emas seperti sisik ikan.
2I- + Pb2- →PbI2
d) KI2 + HgCl2 →↓merah jingga
2I- + HgCl2 →HgI2 ↓+ 2Cl-
Endapan akan larut dalam KI2 berlebih karena membentuk suatu kompleks tetraiodomarkurat (II)
↓HgI2 + 2I- → (HgI4)2
12. Rodanida/tiosianat (CNS-)
a) KCNS + AgNO3 → ↓ putih
Endapan larut dalam amonia dan tidak larut dalam HNO3 encer.
CNS- + Ag+ → AgCNS ↓
AgCNS ↓ + 2NH3 → (Ag (NH3)2)+ + CNS+
b) KCNS + feriklorida → larutan merah darah
yang ditimbulakan karena terbentuknya suatu kompleks.
3CNS- + Fe3+ ◄═► Fe (CNS)3
KCNS + CuSO4 → larutan hijau
Jika larutan CuSO4 berlebih maka terjadi endapan putih yang lama-lama menjadi hitam.
2CNS- +Cu2+ → Cu (CNS)2↓
2Cu(CNS)2 + SO2 +2H2O → 2CuCNS ↓ + 2CNS- + SO42- + 4H+


13. Borat (B4O72-)
a) NaB4O72- + AgNO3 →↓putih perak metaborat (AgNO3)
B4O72- + Ag+ →↓AgBO2
b) Reaksi nyala :
NaBO4O72- dikeringkan dalam cawan porselen + H2SO4 + metanol kemudian dibakar → api warna hijau. Nyala api hijau disebabkan oleh pembentukan metil borat (B (O CH3)3)
c) NaBO4O72- + BaCl →↓putih Barium metaborat (Ba (BO2)2).
Dari larutan-larutan yang cukup pekat, endapan akan larut dalam regensia berlebihan dalam asam-asam encer, dan dalam larutan garam-garam amonium.
Larutan kalsium dan sronsium klorida pun juga dapat melarutkan borax.
B4O72- + 2Ba2+ H2O →↓2Ba (BO2)2 + 2H+
14. Fosfat (PO43-)
a) NaPO4 + AgNO3 →↓kuning
HPO42- + 3Ag+ →Ag3PO4 ↓+ H+
Endapan larut dalam amonia dan asam nitrat encer.
↓Ag3PO4 + 2H+ →H2PO4- + 3Ag+
↓Ag3PO4 + 6NH3 →3 (Ag (NH3)2)+ + PO43-
b) Na fosfat + Ammonium molibdat + HNO3 dipanaskan →↓
Endapan kuning yang terbentuk adalah endapan ammonium fosfamolibdat yang mempunyai rumus (NH4)3 (PMO12 O4o)
c) Na fosfat + Mg mixture →↓putih
15. Kromat (CrO42-)
Adanya ion kromat (CrO42-) ditandai oleh warna kuning dari larutan dalam suasana basa atau orange dalam suasana asam.
a) K2CrO4 + AgNO3 →↓merah coklat
b) K2CrO4 + Pb (NO3)2 →↓kuning
c) K2CrO4 + BaCl →↓kuning
Adanya ion kromat dalam larutan diidentifikasi dengan endapan kuning dari barium kromat (BrCrO4) yang terbentuk apabila kedalam larutan sampel yang ada dalam suasana asam ditambahkan Ba (CH3COO)2
Ba2+ + CrO42- →BaCrO4(s)
d) K2Cr2O4 + H2SO4 + H2O →larutan biru tua
e) K2Cr2O4 + HCl encer →larutan berwarna orange
Ke dalam suasana asam adanya ion CrO42- ditandai oleh warna orange dari laruan.
f) K2Cr2O4 + NaOH encer →larutan tetap berwarna kuning
Warna kuning diperoleh dari K2Cr2O4, adanya warna kuning menunjukkan bahwa larutan berada dalam keadaan basa.
16. Dikromat (Cr2O72-)
Kromat logam biasanya adalah zat-zat padat berwarna yang menghasilkan larutan kuning bila dapat larut dalam air.
a) KCr2O72- + AgNO3 →↓merah coklat (AsCrO4)
Endapan larut dalam nitrat encer dan dalam ammonia, tetapi tidak larut dalam asam asetat.
CrO42- + 2Ag+ →Ag2CrO4 ↓
↓2 Ag2CrO4 + 2H+ →4Ag+ + Cr2O72- + H2O
As2 CrO4 ↓+ 4NH3 →2 (Ag (NH3)2)+ + CrO42-
b) KCrO72- + Pb (NO3)2 →↓kuning PbCrO4
CrO42- + Pb2+ →PbCrO4↓
c) K2Cr2O72- + BaCl2 →↓kuning barium kromat
Endapan tidak larut dalam air maupun asam asetat, tetapi larut dalam asam mineral encer.
CrO42- + Ba2+ →BaCrO4 ↓
d) KCr2O72- + H2SO4 + hidrogen peroksida →larutan biru tua →timbul gas →larutan berwarna hijau
Jika larutan asam suatu kromat diolah dengan hidrogen peroksida, maka akan didapat larutan kromium peroksida yang berwarna biru tua. Larutan biru ini sangat tidak stabil dan segera terurai menghasilkan oksigen dan larutan garam kromium (III) yang berwarna hijau.
e) KCr2O72- + HCl encer →larutan berwarna orange
f) KCr2O72- + NaOH →larutan berwarna kuning
17. Asetat
a) Na asetat + alkohol + H2SO4 pekat + dipanaskan →bau harum yang muncul dari etil asetat
b) Na asetat + FeCl3 →larutan coklat merah
Warna coklat merah disebabkan oleh pembentukan ion kompleks (Fe3 (OH)2 ((CH3COO)6)+
18. Permanganat
a) KMnO4 + AgNO3 →tidak terjadi perubahan (warna tetap ungu).
Pada reaksi ini tidak terjadi peubahan apapun dan setelah diberikan reagen berlebih pun tetap tidak ada perubahan apapun.
b) KMnO4 + KOH pekat + dipanaskan → hijau
ketika ditambah dengan air dan diasamkan dengan H2SO4 encer maka warna larutan akan berubah menjadi ungu.
c) KMnO4 + H2SO4 encer + H2O2 → maka warna ungu dari KMnO4 akan dilunturkan.
d) KMnO4 + NaNO2 →mka warn ungu dilunturkan.
e) KMnO4 + H2SO4 + FeSO4 → maka warna ungu dilunturkan.
f) KMnO4 + H2SO4 encer + H2C2O4 + dipanaskan → maka warna ungu dari KMnO4 dilunturkan.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulakna bahwa proses-proses yang dipakai dalam reaksi identifikasi anion yaitu :
1. Proses yang melibatkan identifikasi produk-produk padapengolahan dengan asam-asam meliputi :
a. Gas-gas dilepaskan dengan asam klorida encer atau asam sulfat encer.
b. Gas atau uap dilepaska dengan asam sulfat pekat.
2. Proses-proses yang bergantung pada reaktan-reaktan dalam larutan meliputi :
a. Reaksi pengendapan.
b. Reaksi oksidasi dan reduksi larutan.





Daftar Pustaka


Hidayati,Ana,Dra,M.Si.2005.Petunjuk Praktikum Dasar kimia Analitik.Semarang.
Ibnu,M.Sodiq dkk.2004. Kimia Analitik I. Malang : JICA
Vogel.1989.Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan semi makro. Jakarta : PT.Kalman Media Pustaka.

STANDARISASI LARUTAN Na2EDTA

I. TUJUAN
- Praktikan dapat mengetahui pembentukan senyawa kompleks.
- Praktikan dapat menentukan kosentrasi ion 109 am Zn2+.

II. DASAR TEORI
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi pembentukan persenyawaan ion kompleks atau garam yang sukar mengion atau pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Jenis titrasi ini merupakan jenis tritasi dimana titran dan tritat saling mengkompleks. Syarat terbentuknya kompleks yaitu tingkat kelarutan yang tinggi.

STANDARISASI LARUTAN HCl

STANDARISASI LARUTAN HCl

TUJUAN
Melakukan pembakuan (standarisasi) larutan asam dan basa. Dalam hal ini HCl dan

DASAR TEORI
Metode tetrimetri yang dikenal juga sebagai metode volumetri, merupakan cara analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip stakiometri reaksi kimia. Dalam setiap metode titrimetri selalu terjai reaksi kimia antara komponen analit dengan titran dinyatakan dengan persamaan umum:

“a” adalah jumlah mol analit (A) yang bereaksi secara stoikiometri dengan “t” mol titran (T) atau “a” dan “t” menggambarkan koefisien reaksi dalam persamaan reaksi setararnya. Analit adalah komponen dari larutan sampel yang hendak diterapkan kuantitasnya. Titran adalah larutan standar yang telah diketahui dengan tepat konsentrasinya.
Jenis metode titrimetri didasarkan pada jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Berdasarkan jenis reaksinya, maka jenis reaksi kimia yang terlibat dalam proses titrasi. Berdasarkan jenis reaksinya, maka metode titrimetri dapat dibagi menjadi empat golongan yaitu, asidi-alkalimetri, oksidimetri, kompleksometri, dan titrasi pengendapan. Salah satu metode tersebut adalah asidi-alkalimetri.
Asidimetri adalah pengukuran kosentrai asam dengan menggunakan larutan baku basa, sedangkan alkalimetri adalah pengukuran kosentrasi basa dengan menggunakan larutan baku asam. Oleh sebab itu, keduanya disebut juga sebagai titrasi asam-basa. Titrasi adalah proses pengukuran volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan kedalam larutan lain dan diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan yang lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekuivalen. Titik ekuivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekuivalen pereaksi-pereksi sama. Disamping praktiknya titik ekuivalen sulit diamati karena hanya merupakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikiometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi merupakan keadaan dimana penambahan satu tetes zat penetrasi (titran akan menyebabkan perubahan warna indikator). Kedua cara tersebut termasuk analisis titrimetri atau volumetri selama bertahun-tahun. Istilah analisis volumetrik lebih sering digunakan dari pada titimetri.
Akan tetapi, titimetri lebih baik karena pengukuran volume tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Reaksi-reraksi kimia yang dapat diterima sebagai dasar penentuan titimetri asam basa adalah sebagai berikut:
 Jika HA merupakan asam akan ditentukan dan BOH sebagai basa, maka reaksinya adalah
 Jika BOH merupakan basa yang akan ditentukan dan HA sebagai asam, maka reaksinya adalah
Dari kedua reaksi diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip reaksi titrasi asam basa adalah reaksi penetralan , yakni dan terdiri dari beberapa kemungkinan yaitu reaksi-reaksi antara asam kuat dengan basa kuat. Asam kuat dengan basa lemah, asam lemah dengan basa kuat serta asam lemah dan basa lemah, tapi dalam percobaan ini menggunakan asam kuat dan basa lemah.
Dalam titrasi asam basa, jumlah relatif asam dan basa yang diperlukan untuk mencapai titik ekuivalen ditentukan oelh perbandingan mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi. Dalam titrasi asam basa perubahan PH sangat kecil sehingga hampir tercapai titik ekuivalen. Pada saat tercapai titik ekuivalen penambahan sedikit asam atau basa akan menyebabkan perubahan PH yang sangat besar. Perubahan PH yang besar ini seringkali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator, yaitu senyawa (organik) yang akan berubah warnanya dalam rentang PH tertentu.
Berdasarkan logika bahwa pada reaksi penetralan, jumlah ekuivalen (grek) asam yang bereaksi sama dengan jumlah ekuivalen (grek) basa.
Dikethui: grek (gram ekuivalen) = Volume (V) X Normalitas (N), maka pada titik ekuivalen = V asam x N asam = V basa x N basa atau V1.N1 = V2. N2. untuk asam berbasa satu dan basa berbasa satu, normalitas sama dengan molaritas, berarti larutan 1M = 1N

ALAT DAN BAHAN
• Alat
- Buret
- Statif
- Erlenmeyer
- Pipet volum
- Pipet tetes
- Corong
- Gelas beker
• Bahan
- Larutan HCl 0,01
- Larutan baku primer
- Indikator MR











CARA KERJA
- Standarisasi HCl dengan larutan





Tambah indikator MR
Titrasi dengan HCl
Hentikan jika terjadi perubahan warna
dari kuning menjadi merah konstan
Catat volume HCl yang diperlukan



DATA PENGAMATAN
- Standarisasi Lruitan HCl
Tritrasi ke
V HCl
1
2
3
4
5
6 10 mL
10 mL
10 mL
10 mL
10 mL
10 mL 12,00 mL
11,50 mL
12,00 mL
12,00 mL
11,50 mL
12,30 mL
Rata-rata 10 mL 11,88 mL






Kosentrasi HCl



PEMBAHASAN

Dalam percobaan ini kita melakukan standarisasi HCl agar kita dapat menentukan kosentrasi dari larutan HCl. Standarisasi ini dilakukan dengan cara memasukkan 10 mL larutan baku primer kedalam erlenmeyer, kemudian larutan yang distandarisasi dimasukkan kedalam buret yaitu larutan HCl. Setelah larutan baku primer yang di dalam erlenmeyer ditambahkan dengan 3 tetes indikator MR yang kemudian ditritasi dengan larutan HCl. Pada saat melakukan titrasi tangan kanan memegang erlenmeyer dan mengoyang-goyangkan. Sedangkan tangan kiri memegang kran buret dan sedikit membukanya agar HCl dapat mengalir sedikit demi sedikit. Setelah terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah konstan meka titrasi harus dihentikan karena sudah mencapai titik akhir titrasi.
Pengaruh indikator MR adalam membantu dalam pembentukan warna dalam percobaan titrasi atau sebagai indikator visual yang menandakan terjadinya reaksi sempurna yaitu ketika warna larutan yang semula kuning (sudah ditambahkan dengan indikator MR) menjadi merah konstan. Dalam percobaan ini juga dapat diketahui bahwa telah terjadi reaksi asam basa yaitu asam klorida (HCl) dengan . Sehingga reaksi yang terjadi sebagai berikut :

Pada percobaan ini kita menggunakan metode titrasi yang diperlukan untuk mencapai titik ekuivalen. Dalam percobaan ini kita dapat mengetahui kosentrasi HCl yaitu dengan cara V1.N1 = V2.N2, dimana V1 dan N1 adalah volume dan konsentrasi asam. Sedangkan V2 dan N2 adalah volume dan kosentrasi basa.


KESIMPULAN

- Standarisasi larutan bertujuan untuk menentukan kosentrasi dari larutan standar
- Indikator MR sangat berpengaruh dalam pembentukan warna dalam suatu titrasi
- Reaksi sempurna terjadi ketika terjadi perubahan warna larutan dari kuning menjadi merah konstan.


DAFTAR PUSTAKA
- Munzil, S.Pd, M.Si. dkk. 2004. Kimia Analitik I. Jogjakarta: Jica
- Kimia Analisa.web.id/tag/titrasi HCl
- http://arifqbio.multiply.com/journal/item/7

STANDARISASI LARUTAN I2

. STANDARISASI LARUTAN I2


I. TUJUAN
- Praktikan mampu menentukan kadar I2
- Prktikum mampu melakukan standarisasi larutan I2 dengan Na2 S2 O2 berdasarkan metode iodimetri.

II. DASAR TEORI
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai preaksi oksidasi (idiometri) dan ion iodide digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Iodometri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodine atau dengan penambahan larutan baku primer KlO3.
Relatif beberapa zat merupakan preaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Masa jumlah penentuan iodimetrik adalah sediki. Akan tetapi banyak preaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodide, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik suatu kelebihan ion iodida ditambahkan kepada preaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan Natrium tiosulfat. Reaksi antara iodium dengan tiosulfat berlangsung secara sempurna. (Underwood, 1986).
Dalam titrasi langsung iod (iodimetri); larutan baku yang digunakan yaitu I2 dalam reaksi redoks harus ada oksidator dan reduktor, sebab bila suatu unsur bertambah bilangan oksidasinya (melepaskan elektron) maka harus ada sesuatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap elektron) maka harus ada sesuatu unsur yang bilangan oksidasinya berkurang atau turun (menangkap elektron), jadi tidak mungkin hanya ada oksidator saja ataupunreduktor saja. Dalam metode analisis ini analat dioksidasikan oleh I2 sehingga I2 terdeteksi menjadi ion: A (reduktor) + I2 – A (teroksidasi ) + 2I-
III. ALAT DAN BAHAN

• Alat-alat
- Buret
- Erlenmeyer 250,00 ml
- Gelas beker
- Labu ukur
- Pipet volume 10,00 ml
- Pipet tetes
- Corong gelas
- Statif

• Bahan-bahan
- KlO3 0,0100N
- Larutan Na2 S2O3 0,01N
- Larutan I2
- Indikator Amylum 1%







IV. CARA KERJA





→ Tambah dengan 3 tetes indikator Amylum 1%
→ Titrasi dengan brutan I2 yang ada di dalam buret
→ Hentikan titrasi saat terbentuk warna biru


→ Catat volume larutan I2
→ Ulang titrasi sampai 6 x






V. DATA PENGAMATAN


Titrasi ke- V Na2 S2 O3 V I2
1 10,00 ml 07,350 ml
2 10,00 ml 07,500 ml
3 10,00 ml 07,200 ml
4 10,00 ml 07,500 ml
5 10,00 ml 07,350 ml
6 10,00 ml 07,800 ml
Rata-rata 10,00 ml 07,450 ml


Perhitungan:
N1 V1 = N2 V2
N I1 =
=
= 0,0110 N

VI. PEMBAHASAN
Ada dua cara analysis menggunakan senyawa iodium yaitu titrasi iodimetri atau dengan iodimetri dimana iodium terlebih dahulu dioksidasi oleh oksidator. Pada standarisasi larutan I2 kali ini larutan Na2 S2 O3 ditrasi dengan larutan I2. sehingga reaksinya adalah sebagai berikut:
Na2 S2 O3 + I2  2 NaI + Na2 S4 O6
Dengan peralatan titrasi larutan I2 dimasukkan ke dalam buret, sedangkan larutan Na2 S2 O3 10 ml 0,0082 N dimasukkan ke dalam elenmeyer dan ditambahkan dengan indikator Amylum 1%. Indikator yang digunakan dalam proses standarisasi ini adalah indikator Amylum 1%.
Kemudian larutan tersebut dititrasi dengan larutan I2 sempat terbentuk warna biru. Bertemunya I2 dengan Amylum akan menyebabkan larutan berubah warna dari bening menjadi biru.
Perubahan warna biru merupakan tanda bahwa sejumlah larutan I2 tepat menetralkan larutan Na2 S2 O3.
Dari praktikum yang telah dilaksanakan diketahui:
• Menjelang akhir titrasi permukaan larutan I2 dalam buret berada pada posisi 0 ml.
• Pada akhir titrasi pertama posisi I2 berada pada permukaan 07,35 ml.
• Pada akhir titrasi kedua posisi I2 berada pada permukaan 07,50 ml.
• Pada akhir titrasi ketiga posisi I2 berada pada permukaan 07,20 ml.
• Pada akhir titrasi keempat posisi I2 berada pada permukaan 07,20 ml.
• Pada akhir titrasi kelima posisi I2 berada pada permukaan 07,50 ml.
• Pada akhir titrasi keenam posisi I2 berada pada permukaan 07,80 ml.
Jadi rata-rata volume I2 adalah: 07,45 ml
Di dapatkan konsentrasi I2 yaitu : 0,0110 N

VII. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan, perhitungan dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan:
1. Ada 2 cara analysis menggunakan senyawa iodium yaitu: titrasi iodimetri dengan iodometri
2. Dalam titrasi langsung iod (iodometri0, larutan baku yang digunakan yaitu I2.
3. Indikator yang dipakai adalah amylum karena amylum sangat peka terhadap iodium dan terbentuk kompleks amylum berwarna biru cerah.
4. Jumlah rata-rata volume I2 diketahui sebanyak 21,44 ml dan konsentrasi larutan I2 sebesar 0,00383 N.



VIII. DAFTAR KEPUSTAKAAN

Basset, J etc. 1994, Buku Ajar Vagel Analisis Kuantitatif Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Khopkar, SM. 1990, Konsep pasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta
Rivai, Harrizul, 1995. Asas Pemeriksaan Kimia, UI Press, Jakarta
Underwoo, Al, 1999, Analisis Kimia Kuantitatif, erlangga, Jakarta.

STANDARISASI LARUTAN BAKU KMnO4

STANDARISASI LARUTAN BAKU KMnO4

I. Tujuan
Praktikum atau percobaan ini dilakukan supaya kita dapat mengetahui konsentrasi larutan KMnO4 dari larutan baku primer H2C2O4.

II. Dasar Teori
Kalium permanganat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama sekali dari mangaan oksida. Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang bersifat asam lemah , netral dan basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna hijau ( rivai, 1995 ).
Kalium permanganat distandarisasikan dengan menggunakan natrium oksalat atau sebagai arsen(III) oksida standar-standar primer.
Pereaksi kalium permanganat bukan pereaksi baku primer. Sangat sukar untuk mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni, bebas dari mangan dioksida . kalium permanganat merupakan zat pangoksida kuat yang berlainan menurut pH medium, kalium permanganat merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam air, yang merupakan ciri khas untuk ion permanganat.
Pembakuan larutan KMnO4 ini dapat dilakukan dengan titrasi permanganometri secara langsung,biasanya dilakukan pada analit yang dapat langsung dioksida. Kalium permanganat merupakan zat pengoksida yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indicator, karena mampu bertindak sebagai indicator oleh karena itu pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan KMnO4.
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terlatak pada : larutan pentiter KMnO4 pada buret apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan resipiitat coklat yang seharusnya adalah larutan yang berwarna merah rosa. Penambaha KMnO4 yang berlaku cepat pada larutan seperti H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 yang telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4 dengan Mn2+.

III. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Buret
2. Pemanas
3. Erlemeyer
4. Pipet tetes
B. Bahan
1. Larutan H2SO4 2N 5ml
2. Larutan KMnO4 0,01 N
3. Larutan H2C2O4 0,01 N 10,0 ml

IV. Cara Kerja
1. Pipet 10,0 ml larutan asam oksalat standart dalam erlenmeyer .
2. Tambahkan 5 ml asam sulfat (H2SO4) 2N.
3. Panaskan hingga suhu kurang dari 800 C
4. Titrasi segera dengan KMnO4 0,01 N sampai terbentuk warna merah muda yang bertahan sampai sepuluh detik.

V. Hasil Pengamatan
Titrasi Ke Volume H2C2O4 Volume KMnO4
1 10.0 ml 12,90 ml
2 10.0 ml 13,10 ml
3 10,0 mll 12,50 ml
4 10,0 ml 12,70 ml
5 10,0 ml 12,30 ml
6 10,0 ml 12,40 ml
Rata-rata 10,0 ml 12,65 ml



Perhitungan :
N1.V1=N2.V2
N KMnO4 = N H2C2O4 X V H2C2O4
V KMnO4
= 0,0103 N X 10 ml
12,65 ml
= 0,103 N/ml
12,65 ml
= 0,0081 N

VI. Pembahasan
Pereaksi kalium permanganat bukan pereaksi primer. Sangat sukar untuk mendapatkan pereaksi ini dalam keadaan murni, bebas dari mangan dioksida. Kalium permanganate merupakan zat pengoksida kuat yang berlainan menurut pH medium. Kalium permanganate merupakan zat padat coklat tua yang menghasilkan larutan ungu bila dilarutkan dalam air, yang merupakan ciri khas untuk ion permanganate.
Timbulnya mangan dioksida akan mempercepat reduksi permanganat. Demikian juga adanya ion mangan(II) dalam larutan akan mempercepat reduksi permanganat menjadi mangan dioksida. Reaksi tersebut berlangsung sangat cepat dalam suasana netral. Oleh karena itu, larutan kaliuum permanganat harus distandarisasi.
Standarisasi kalium permanganat harus distandarisasi dengan asam kuat, seperti asam oksalat dan asam sulfat, ini dikarenakan supaya reaksi tidak bolak-balik, sedangkan potensial elektroda sangat tergantung pada pH.
Standarisasi larutan KMnO4 ini dapat dilkukan dengan titrasi permanganometri secara langsung , biasanya dilakukan pada analit yang dapat langsung dioksida . kalium permanganate merupakan zat pengoksida yaqng sangat kuat. Jadi pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan, karena mampu bertindak sebagai indicator, oleh karena itu pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan KMnO4.
Reaksi antara permanganat dengan asam oksalat berjalan agak lambat pada suhu kamar, sehingga sebelum asam oksalat dan H2CO4 ditritasi dengan KMnO4 harus dipanaskan terlebih dahulu supaya reaksinya bisa cepat, tetapi kecepatan meningkat setelah ion mangan(II) terbentuk mangan(II) bertindak sebagai suatu katalis dan reaksinya diberi istilah otokatalitik karena katalis menghasilkan reaksi sendiri. Reaksi yang terjadi:
2MnO4- + 5H2C2O4+ 6H+ → 2Mn2 + 10CO2 + 8H2O
Setelah pemanasan tersebut tersebut asam oksalat dan asam sulfat langsung distandarisasi dengan KMnO4, setelah distandrisasi laruatan asam oksalat dengan asam sulfat menghasilkan warna merah muda, ini dikarenakan reaksi antara larutan asam oksalat dan asam sulfat dengan kalium permanganat. Berikut ini reaksi yang terjadi :
5H2C2 O4 + 2KMnO4 + 5H2SO4 → K2SO4 2MnSO4 + 8H2O + 10CO2

VII. Kesimpulan

Pada pembahasan dan hasil pengamatan dapat diambil kesimpulan:
1. Pada standarisasi larutan permanganat tidak menggunakan indikator karena kalium permanganat termasuk zat pengoksida yang sangat kuat.
2. Standarisasi ini harus dilakukan dengan asam kuat ini dikarenakan supaya reaksi tidak bolak balik .
3. Standarisasi ini harus dipanaskan karena reaksi permanganat dengan asam oksalat dengan asam sulfat berjalan agak lambat pada suhu kamar.








Daftar Pustaka
Pudjatmaka, Hadyana.1989. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitaik.Jakarta : UI-Press.
http://kimiaanalitik.blogspot.com. Akses 08/11/2009.

PENETAPAN KADAR SAKARIN

PENETAPAN KADAR SAKARIN

I. TUJUAN
 Praktikan mampu mengetahui kadar sakarin dari sebuah sampel ( marimas ) dengan menggunakan metode ekstraksi-titrasi.

II. DASAR TEORI
Ada beberapa cara pemisahan dan permunian suatu zat dari campurannya secara fisik antara lain : Destilasi, ekstraksi, koagulasi, adsorbsi, dan sublimasi.
Ekstraksi merupakan proses pengambilan komponen berdasarkan kelarutannya dalam dua fasa cair yang berbeda dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diingikan tanpa melarutkan material lainnya. Sedangkan zat yang diperoleh disebut sari ( ekstrak ). Ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan terhadap komponen lain dalam campuran. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah :
 Tipe persiapan sampel
 Waktu ekstraksi
 Kuantitas pelarut
 Suhu pelarut
 Tipe pelarut
Pada industri the botol atau teh kotak, sari teh diperoleh dari daunnya dengan cara ekstraksi memakai pelarut cair. Pada kehidupan sehari-hari beberapa pelarut organik seperti aseton atau bensin dapat digunakan untuk mengekstraksi noda-noda minyak pada pakaian.
(Drs.Irfan Anshory.1998.Kimia SMU jilid I.jakata:Erlangga ).
Sedangkan titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini masih banyak yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri. Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan standar atau titran, sedangkan larutan yang tidak diketahui konsentrasinya diletakkan dierlenmeyer yang disebut sebagai analit. Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasr untuk titrasi, suatu reaksi harus memenuhi persyaratan tertentu sebelum dapat digunakan, yaitu :
1. Reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi tertentu.
2. Reaksi harus berlangsung sampai benar-benar lengkap pada titik ekuivalen.
3. Beberapa cara harus tersedia untuk menentukannya apabila titik ekuivalen dicapai.
4. Diharapkan bahwa reaksi berlangsung cepat sehingga titran dapat berlangsung dalam beberapa menit.
(Underwood, 1998 )
Titik dimana terjadinya perubahan warna indikator ini disebut titik akhir titrasi, secara ideal titik akhir titrasi seharusnya sama dengan titik akhir teoritis ( titik ekuivalen ). dalam prakteknya selalu terjadi sedikit perbedaan yang disebut kesalahan titrasi. ( Sukrimah, 1990 ).
Dalam percobaan ini kita diminta mengetahui kadar sakarin dalam minuman sachet ( marimas ) kita ketahui sakarin adalah pemanis buatan yang memiliki struktur dasar sulfinida benzoat, karena strukturnya berbeda dengan karbohidrat sakarin tidak menghasilkan kalori. Sakarin jauh lebih manis daripada sukrosa, dengan perbandingan rasa manis kira-kira 400 kali lipat sukrosa. Sakarin mengalami hidrolisa dalam suasana alkalis menjadi asam O-sulfamoil-benzoat atau dalam suasana asam akan menjadi asam ammonium O-sulfo-benzoat. Sakarin sulit larut dalam air, oleh karena itu senyawa ini sering digunakan dalam bentuk garam ( Na-sakarin ). Na-sakarin biasanya digunakan sebagai pemais dalam sampel minuman ringan. ( artikel.blogspot.com )
III. ALAT DAN BAHAN

3.1. Alat-alat
- Erlenmeyer
- Labu takar 250,0 ml
- Corong pemisah
- Gelas beker
- Gelas ukur
- Buret
- Statif
- Pipet volume 25,0 ml
- Pipet tetes
- Pemanas

3.2. Bahan-bahan
 Marimas
 Aquades
 10,0 ml HCl pekat
 30,0 ml eter
 3,00 ml aseton
 Larutan NaOH
 Larutan asam oksalat

IV. DATA PENGAMATAN

 1,00 ml NaOH 0,05 N ~ 10,26 mg Na-sakarin
~ 9,160 mg asam sakarin
 Standarisasi NaOH

Titrasi ke- V ( COOH )2 . 2H2O V NaOH
1. 5,00 ml 11,50 ml
2. 5,00 ml 11,20 ml
Rata-rata 5,00 ml 11,35 ml

N1 . V1 = N2 . V2

N NaOH = =


=

= 0,0440 N

 Kadar Na-sakarin

= ml Titrasi x x 10,26 mg x

= 0,7 ml x x 10,26 mg x 10,0 ml

= 0,7 ml x 0,88 x 10,26 mg x 10,0ml
= 63,2016 mg/sachet



V. PEMBAHASAN

Pada paraktikum penetapan kadar sakarin kali ini metode yang digunakan adalah ekstraksi dan titrasi.
Ekstraksi merupakan proses pelarutan satu atau sejumlah penyusun atau campuran ke dalalm pelarut sehingga penyusun-penyusun tersebut terpisah dari penyusun lain yang tidak larut dalam pelarut itu atau dengan istilah lain ekstraksi merupakan proses pemisahan komponen berdasarkan dua fasa cair yang berbeda.
Larutan yang diekstraksi pada praktikum kali ini adalah laruta marimas dengan eter. Pelarut organik yang digunakan adalah eter karena eter merupakan salah satu pelarut organik yang tidak bisa bercampur dengan air. Pada percobaan kali ini yang akn ditetapakan berapa mg sakarin yan terdapat pad sampel ( marimas). 1 gram sakarin dapat larut dalam 290 ml air dalam suhu kamar atau dalam 25,0 ml air mendidih. Sakarin mudah larut dalam alkali karbonat dan sedikit larut ( sukar ) dal kloroform atau eter.
25,0 ml larutan marimas, 10,0 ml HCl pekat dan 10,0 ml eter yang sudah di masukkan ke corong pemisah kemudian kita kocok dengan hati-hati dengan memiringkan corong pemisah. Karena pengocokan akan menimbulkan sedikit panas dan menyebabkan tekanan uap dalamcorong pemisah naik, maka tekanan uap dapat dihilangkan dengan cara membuka kran bagian bawah. Kemudian setelah larutan sampel dan eter dikocok maka didiamkan supaya kedua larutan yang telah bercampur terpisah menjadi dua lapis, larutan sampel ( marimas ) berada diatas sedangkan eter berada dibawah karena berat jenis eter lebih besar daripada air. Ekstraksi dilakukan sebanyak tiga kali dengan setiap kali ekstraksi di tambah 10,0 ml eter. Ketika sudah dilakukan ekstraksi berulang-ulang maka hasil dari ekstraksi dikumpulkan dan diekstraksi lagi denga 10,0ml aquades kemudian diuapkan sehingga yang tersisa adalah residunya saja.
Dari residu yag telah di dapat di tambah dengan 3,00 ml aseton, 2,00 ml aquades dan indikator BTB kemudian dititrasi dengan larutan NaOH yang sudah distandarisasi dengan asam oksalat smapi terjadi perubahan warna dari bening menjadi biru.
Daripercobaan dan perhitungan yang telah dilakukan diperoleh :
 N NaOH = 0,0440 N
 ml titrasi = 0,7 ml
 Kadar Na-sakarin = 63,2016 mg/sachet

VI. KESIMPULAN
 Uji penetapan kadar sakarin melibatkan dua metode yaitu ekstraksi dan titrasi
 Intensitas rasa manis pada garam Na-sakarin kira-kira 400 kali lebih tinggi daripada sukrosa
 kadar sakarin pada minuman ringan ( marimas ) sebesar 63,2016 mg/sachet.
 Ketika sampel minuman ringan, HCl dan eter diekstrasi larutan sampel beada diatas dan eter berada dibawah karena berat jenis eter lebih besar daripada berat jenis air.
 Pada saat titrasi indikator yang digunakan adalah indikator BTB

VII. DAFTAR PUSTAKA

Anshory, Irfan, 1998. Kimia SMU jilid I. Jakarta: Erlangga
Artikel bilboer. Blogspot. Com. akses 27-12-2009
Day, R. A dan Underwood, AL. 2002. Analisis Kimia kuantitatif edisi ke-6. Jakarta: Erlangga
Pudjaatmaka, A. Hadyana. 1997. Pedoman Pedoman Belajar Ilmu Kimia. Jakarta: Erlangga
Sukrimah. 1990. Kimia Kedokteran adisi 2. Jakarta: Bina Rupa Aksara
www. Wikipedia. Com.Akses 23-12-2009