Kamis, 15 Juli 2010

STANDARISASI LARUTAN NaOH

STANDARISASI LARUTAN NaOH

I. TUJUAN
 Praktikan mampu melakukan analisis secara titrimetri dengan metode Asidi-Alkalimetri menggunakan titrasi asam-basa untuk menentukan konsentrasi asam atau basa.
 Praktikan dapat memahami cara menghitung jumlah analit dari contoh beserta satuan yang tepat.
II. DASAR TEORI
Kesetimbangan asam basa sebagai dasar metode asidi-alkalimetri merupakan topik yang sangat penting dalam kimia maupun bidang pertanian, biologi, dan obat-obatan. Titrasi asam basa merupakan teknik yang sangat banyak digunakan untuk menetapkan secara tepat konsentrasi asam atau basa dari suatu larutan, sebagai nforamasi yang banyak dibutuhkan. Titrasi adalah pengukuran volume suatu larutan dari suatu reaktan yang dibutuhakn untuk bereaksi sempurna dengan sejumlah tertentu lainnya. Dalam titrasi asm basa, ujmlah relatif asam dan basa yang diperlukan untukemencapai titik ekuivalen ditentuksn oleh perbsndingsn mol asam (H+) dan basa (OH-) yang bereaksi.
(Ibnu,Drs,M.Sodiq dkk.Kimia Analitik I(Malang:JICA,2004).hlm:99-100)
Dengan kata lain, pada titrasi asam basa jumlah ekuivalen asam sama dengan jumlah ekuivalen basa. Hal itu dapat dituliskan sebagi berikut:




(Ir. Parning dkk.1998.Kimia Kedokteran edisi 2.Bina Rupa Aksara:Jakarta.)
Dari kumpulan reaksi kimia yang dikenal relatif sedikit yang dapat digunakan sebagai dasr untuk titrasi, karena suatu reaksi harus mememnuhi syarat tertentu sebelum dapat digunakan , yaitu:
1. Reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi tertentu. Harus tidak ada reaksi samping.
2. Beberapa cara harus tersedia untuk menentukannnya apabila titik ekuivalen didapat.suatu indikator harus ada atau beberepa car instrumental dapt digunaka untuk mengatakan kepada analisis apabila harus berhennti dengan penambahan titran.
4.Diharapkan bahwa reaksi berlangsung cepat sehingga titran dapat berlangsung dalam beberap menit. (R.a. Day,JR dan A.L.,Underwood, Analisi Kimia Kuantitatif, Jakarta:Erlangga, 2002.)
Dalam titrasi asam basa perubahan pH sangat kecil hingga hampir tercapai titik ekuivalen. Pada saat tercapai titik ekuivalen penambahan sedikit asam atau basaakan menyababkan perubahan pH yang sngat besar. Perubahan pH yang besar ini sering kali dideteksi dengan zat yang dikenal sebagai indikator, yaitu suatu senyawa (organik) yang akan berubah warnanya dalam rentang pH tertentu. Titik atau kondisi penambahn asam atau basa dimana terjadi perubahan warna indikator dalam suatu titrasi dikenal sebagai titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi sering disamakan sengan titik ekuivalen, walaupun diantara keduanya masih ada selisih yang relatif kecil. (Ibnu,M.Sodiq dkk.2004)
NaOH (Natrium Hidroksida Padat) digunakn untuk meleburkan sapel yang bersifat asam atau amfoter, seperti SiO2, silikat dan oksidadari Sn, Al, dll. Natrium hidroksida umumnya trkontaminasi oleh sejumlah pengotor, yang paling serius diantaranya adalah natrium karbonat. Ketika karbonat diserap oleh larutan NaOH, reaksi ini terjadi
CO2 + 2OH- → CO32- + H2O
Ion karbonat adalah basa, tetapi ion ini bergabung dengan ion hidrogen dalam dua tahap :
CO32- + H3O+ → HCO3- + H2O (fenol ftalain)
HCO3- + H3O+ → H2CO3 + H2O (fenol ftalain)
Fenol ftalain berperan sebagai indikator untuk tahap pertam adalam titrasi, dan metil orange untuk tahap kedua. Titrasi NaOH selesai pada titik akhir fenol ftalain, dan hanya diperlukan satu atau dua tetes penambahan titran untuk mencapai titik akhir metil orange.
(R.A.Day, dan Underwood.2002.)

III. ALAT DAN BAHAN
3. 1. ALAT
 Buret
 Pipet volume
 Erlenmeyer 250,0 ml
 Gelas kimia
 Corong gelas
 Pipet tetes
 Statif
3. 2. BAHAN
 Larutan NaOH 0,01 N
 Larutan baku primer H2C2O4. 2H2O 0,0100 N
 Indikator PP





IV. CARA KERJA


→ Ambil menggunakan pipet volume
→ Masukkan dalam erlenmeyer
→ Ambil larutan NaOH 0,01 N yang akan distandarisasi
→ Masukkan ke dalam buret yang telah dibilas NaOH sebelumnya
→ Ambil larutan asam oksalat dalam erlenmeyer
→ Tambahkan 3 tetes indikator PP
→ Titrasi dengan larutan NaOH
→ Hentikan titrasi apabila warna merah permanen sudah terbentuk dalam larutan erlenmeyer
→ Catat volume NaOH


V. DATA PENGAMATAN


Titrasi ke- Volume H2C2O4 2H2O 0,0100 N (ml) Volume NaOH (ml)
1 10,0 ml 21,00 ml
2 10,0 ml 20,00 ml
3 10,0 ml 17,50 ml
4 10,0 ml 22,40 ml
5 10,0 ml 21,50 ml
6 10,0 ml 18,50 ml
Rata-rata 10,0 ml 20,15 ml



 Perhitungan untuk mencari normalitas NaOH
Untuk volume rata-rata H2C2O4. 2H2O 0,0100 N 10,0 ml dan volume rata-rata NaOH 20.15 ml
N1V1 = N2V2


NNaOH =


=


= 0,0051 N



VI. PEMBAHASAN


Untuk menstandarisasi larutan NaOH maka dalam percobaan ini menggunakan larutan asam oksalat H2C2O2. 2H2O sebagai larutan standarnya. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui ini merupakan reaksi asidi-alkalimetri asam basa antara asam oksalat dan basa NaOH. Volume asam oksalat yang digunakan untuk titrasi adalah 10,0 ml. Asam oksalat sebagai titrant yang diketahui berwarna bening dan NaOH sebagai titer yang berwarna bening pula, sebelum dilakukan titrasi kita masukkan 3 tetes indikator PP yang diketahui berwarna bening kedalam larutan asam oksalat agar pada saat titrasi dapat terjadi perubahan warna ketika mencapai titik ekuivalen yaitu titik dimana jumlah larutan asam oksalat sama dengan jumlah larutan pada NaOH yang diperlukan untuk bereaksi sempurna. Dalam titrasi ini kita menggunakan indikator PP karena fenol ftalain itu tergolong asam yang sangat lemah dalam keaadaan tidak terionisasi tetapi jika dalam lingkungan basa PP akan terionisasi lebih banyak dan dia akan memberikan warna yang terang dan perubahan warnanya lebih mudah untuk diamati

VII. KESIMPULAN


Dari percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Analisis volumetri dapat dilakukan apabila reaksinya berlangsung dengan cepat, tanpa reaksi samping, reaksi berlangsung kuantitatif.
2. Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa adalah indikator fenol ftalain (C26H14O4) karena perubahan warnanya lebih mudah untuk diamati.
3. Untuk menenetukan titik akhir titrasi dapat dilakukan atau dilihat ketika perubahan warna permanen pada indikator yang menunjukkan titik ekuivalen reaksi antara zat yang dianalisis dan larutan standar.
4. Dalam proses titrasi asam basa apabila sudah terbentuk warna merah permanen di dalam larutan yang ada di erlenmeyer maka titrasi harus segera dihentikan.
5. Pada penentuan konsentrasi NaOH, di dapatkan normalitas NaOH sebesar 0,0051 N.


DAFTAR PUSTAKA


Day,R.A dan Underwood,A.L.Analisis kimia Kuantitatif.Jakarta:Erlangga,2002.
Ibnu,M.Sodiq.Kimia Analitik I.Malang:Fakultas MIPA Universitas Negeri
Malang:2004.
Parning dkk.Penuntun Belajar Kimia 2A.jakarta:Yudhistira.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar