Kamis, 15 Juli 2010

STANDARISASI LARUTAN Na2EDTA

I. TUJUAN
- Praktikan dapat mengetahui pembentukan senyawa kompleks.
- Praktikan dapat menentukan kosentrasi ion 109 am Zn2+.

II. DASAR TEORI
Titrasi kompleksometri yaitu titrasi pembentukan persenyawaan ion kompleks atau garam yang sukar mengion atau pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Jenis titrasi ini merupakan jenis tritasi dimana titran dan tritat saling mengkompleks. Syarat terbentuknya kompleks yaitu tingkat kelarutan yang tinggi.

Titrasi Kompleksometri ini salah satu metode kuantitatif dengan memanfaatkan reaksi kompleks antara ligan dengan ion logam.
Contoh reaksi titrasi kompleksometri :

Pada Titrasi Kompleksometri ini digunakan larutan standar sekunder yang secara umum ditulis merupakan asam tetraprotik dengan rumus:

Banyaknya dan Y4- tergantung atas besar kecilnya PH larutan. Besarnya fraksi sebagai fungsi PH.
Sebagainama larutan penstandar biasanya yang digunakan adalah larutan garam EDTA yang kelarutannya dalam air sangat baik. Reaksi umumnya terhadap ion logam menurut persamaan sebagai berikut:

Dalam reaksi di atas, selalu dihasilkan ion H+. Dalam pelaksanaan titrasi larutan ion logam yang dititrasi harus dibuffer.
Untuk logam alkali tanah seperti kestabilannya rendah, sehingga diperlukan PH > 10. Untuk Zn dan Cu yang kestabilan tinggi sehingga diperlukan PH 10.
Indikator yang biasa digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah EBT (Eriochrome Black T), Mureksida, dan Kalmagit.

 Pelaksanaan Tritasi Kompleksometri
a. Titrasi langsung
Larutan ion logam dititrasi langsung dengan larutan EDTA yang sebelumnya telah dibuffer terlebih dulu.

b. Titrasi kembali
Larutan ion logam ditambah larutan standar EDTA berlebih dan kemudian dibuffer. Kelebihan larutan EDTA dititrasi kembali dengan larutan standar ion logam lain.
c. Titrasi asam basa

d. Titrasi substitusi
Digunakan untuk larutan ion logam yang dapat membentuk kompleks
MY(n-4)+ yang lebih stabil dari ion logam lainnya.
 Penggunaan Titrasi Kompleksometri
a. Penentuan kesadahan air
b. Penentuan ion Al, Zn, Th dan Pb.

III. ALAT DAN BAHAN
III.1. Alat                                                                3.2. Bahan
a. Pipet volume                                                          a. Larutan
b. Erlenmeyer                                                            b. Larutan standar primer
c. Statif                                                                       c. Larutan Buffer PH 10
d. Buret                                                                      d. Indikator EBT
e. Corong
f. Gelas beker

IV. CARA KERJA
1. Dipipet 10,0 ml sampel masukkan dalam erlenmeyer
2. Tambahkan 1 ml buffer PH 10 dan sedikit serbuk EBT
3. Titrasi dengan larutan sampai terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.

V. PEMBAHASAN

Pada percobaan standarisasi larutan didapatkan data sebagai berikut:
Titrasi ke


1
2
3
4
5
6 10 mL
10
10
10
10
10 9,90
9,80
10,00
9,80
10,00
10,00
Rata-rata 10 9,91

Hasil perhitungan :

Terjadi perubahan warna dari merah anggur menjadi biru.
Pada percobaan ini menggunakan larutan baku sekunder dengan indikator EBT yang ditandai dengan perubahan warna dari merah anggur menjadi biru dengan prinsip berdasarkan pada reaksi pembentukan kompleks antara ion logam Zn2+ dengan zat pembentuk kompleks atau liganda yang disebut denagn . Dipilih karena larut dalam air dan juga pereaksi umum dari EDTA dalam bentuk garamnya. Dalam titrasi ini, yang bertindak sebagai Eitran adalah larutan primer . Karena yang akan dicari kosentrasinya dan larutan sebagai titer karena sudah diketahui konsentrasinya.
Larutan dipipet sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer kemudian ditambahkan larutan buffer dengan PH 10. Larutan yang mengandung ion logam dan akan dititrasi dengan larutan EDTA harus ditambahkan sebuah buffer, karena ion logam seperti Zn2+. Pada PH tinggi (basa) akan mudah terhidrolisasi dan menimbul pengendapan hidrosida-hidroksida:

Endapan hidroksida akan menyebabkan lambatnya kerja larutan EDTA. Oleh karena itu perlu menambahkan ligan kompleks agar pengendapan hidroksida logam itu bisa dicegah. Larutan buffer akan bereaksi denagn larutan logam. .
Dalam penambahan buffer pada larutan yang mengandung ion logam jangan terlalu banyak karena akan menimbulkan kekeliruan pada titrasi yang hasilnya akan memperjelek titik akhir titrasi disebabkan karena efek konsentrasi amonia. Campuran larutan baku dalam erlenmeyer ditambah dengan indikator EBT karena indikator EBT peka terhadap perubahan kadar logam dan PH larutan.
Reaksinya dengan indikator EBT dapat terbentuknya ikatan kovalen parsial dengan liganda diakibatkan oleh adanya interaksi antara ion logam pusat dengan liganda yang melibatkan pembagian pasangan bebas ion logam pada tiap molekul liganda. Ion kompleks seperti ini mempunyai warna gelap namun mencolok.
warna kompleks merah anggur. Larutan berwarna merah anggur ini mulai dititrasi dengan . Bila suatu larutan ditambahkan dengan larutan yang mengandung ion-ion logam, terbentuklah kompleks-kompleks dengan disertai pembebasan dua ekuivalen ion hydrogen. Pembentukan kompleks yang paling umum jika ion kompleks terbentuk adalah perubahan warna dari merah anggur menjadi biru. Pada PH 10 larutan akan berwarna biru, ketika molekul EDTA ekuivalen dengan jumlah ion logam dalam sampel larutan dan molekul indikator terlepas dari ion logam.

VI. KESIMPULAN
Dari percobaan tersebut dapat disimpulkan:
• Standarisasi larutan bertujuan untuk mengetahui dan menentukan konsentrasi larutan standar sekunder. Dalam hal ini larutan , serta mengetahui perubahan warna yang terjadi dari merah anggur menjadi biru.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Hidayati, Ana. Petunjuk Praktikum Dasar Kimia Analitik. IAIN Walisongo Semarang. 2009.
Ibnu, M.Shodiq, dkk. Kimia Analitik I. Malang: Universitas Negeri Malang. 2004.
http://74.125.153.132/search?q=cache:ywtFmG3xfYOJ:borasracunn-blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar