Selasa, 29 Januari 2013

Jika guru alami kebosanan dalam bekerja dan berkarier (Teacher Burnout)

         Teacher Burnout bisa diartikan sebagai kelelahan dari seorang guru dalam menjalani profesinya. Guru yang malas-malasan berbeda dengan guru yang lelah dan stress akibat beban pekerjaan yang menggunung. Teacher burnout jika dibiarkan akan membuorang guru kehilangan minat mengajar dan dunia pendidikan. Seorang guru yang terkena Teacher Burnout biasanya akan meninggalkan profesi mengajar ditahun ketiganya.

      Cara terbaik untuk guru agar terhindar dari Teacher Burnout adalah dengan punya lingkaran pertemanan yang profesional di sekolah. Jika sebagai guru anda merasa senang mengajar namun merasa tidak punya harapan dan semangat, itulah ciri-ciri dari guru yang mengidap Teacher Burnout.

Pihak sekolah mesti cepat menyikapi guru yang terkena Teacher Burnout karena akan berpengaruh pada alitas mengajarnya. Guru baru atau muda pada saat mulai mengajar, segera cari mentor supaya ada yang memberi pengarahan dan petunjuk. Banyak guru yang segan berkata tidak, jadinya kebanyan pekerjaan jadi stress sendiri. Banyak guru yang sebenarnya terkena Teacher Burnout namun ia tidak sadar, jadinya siswa yang menjadi korban.
          Guru yang terjebak rutinitas rawan terkena Teacher Burnout, maka ia harus mempunyai lingkungan lain selain disekolah. Guru yang senang pasang target tinggi-tinggi rentan terkena Teacher Burnout sebab ia merasa tidak berarti ketika gagal. Jauhi ruang guru yang isinya guru-guru yang jika bicara nyinyir, nyelekit, dan gemar mengeluh ini dan itu. Hidup hanya sekali, carilah teman sesama guru yang berpikir dan bersikap positif dalam kesehariannya baik dalam berkata maupun tindakannya.
Sosial media bisa berperan banyak dalam membuat guru terhindar dari Teacher Burnout dengan melakukan kegiatan blogging misalnya. Sosial media membantu guru merasa kehidupan yang sebenarnya ada diluar sana, sehingga ia menjadi tidak mudah stress dengan masalah disekolah. Sosial media membantu guru memperluas wawasan dengan cara diskusi dan mengikuti perbincangan dengan topik tertentu. Sosial media membantu guru belajar kembali tentang apa yang ia suka dan keluar sejenak dari rutinitas mengajar. Menjadi guru yang bahagia tidak hanya dibutuhkan rasa ikhlas, namun juga diperlukan sikap pandai membagi waktu dan mencicil pekerjaan.
         Guru yang bahagia ukurannya salah satunya tentu kesejahteraan dan bertambah profesional ketika ia tersertifikasi. Banyak guru yang senang membawa pekerjaan ke rumah, namun dirumah tidak disentuh, dan besok paginya dibawa lagi kesekolah. Maka saat memilih menjadi guru, seseorang akan bahagia jika seimbang dalam menjalani kehidupan sosial dan profesional.
Sumber: http://gurukreatif.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar